Home / Kabar Daerah

Senin, 27 April 2026 - 18:59 WIB

Menunggu Kepastian Relokasi, Warga Limusnunggal Bertahan di Zona Bahaya Tanah Bergerak

Korban penyintas seorang penyadap nira nekat  bertahan di rumah retak akibat tanah bergerak di Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa

Korban penyintas seorang penyadap nira nekat bertahan di rumah retak akibat tanah bergerak di Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa

Kondisi memprihatinkan rumah warga pasca pergerakan tanah di Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Bantargadung, terlihat retakan dan tidak lagi layak huni/ Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID – Puluhan warga Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, masih hidup dalam ancaman serius bencana tanah bergerak. Hingga Senin (27/4/2026),

Bencana yang mulai terdeteksi sejak 2022 kini semakin parah. Jika awalnya hanya retakan kecil, kondisi pada 2024 berkembang menjadi kerusakan luas yang berdampak pada sedikitnya 35 rumah, dengan 25 unit di antaranya mengalami kerusakan berat.

Sebagian warga terpaksa bertahan di rumah yang rawan ambruk, sementara lainnya mengungsi secara mandiri atau menumpang di rumah kerabat.

“Awalnya belum terlalu parah, tapi sejak 2024 dampaknya makin besar. Sampai sekarang belum ada kepastian relokasi,” ujar Jamal (37), warga setempat.

Harapan sempat muncul ketika lahan relokasi disebut tersedia di kawasan PT Citimu. Namun hingga kini, pembangunan hunian belum juga dimulai.

Warga mendesak pemerintah daerah segera memberikan kepastian, termasuk meminta Bupati Sukabumi turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi riil di lapangan.

Di tengah situasi tersebut, sekitar lima kepala keluarga masih bertahan di zona rawan karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal. Mereka tinggal di rumah yang sewaktu-waktu bisa terdampak pergerakan tanah susulan.

Kondisi memprihatinkan rumah warga pasca pergerakan tanah di Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Bantargadung, terlihat retakan dan tidak lagi layak huni/ Foto: Istimewa
Kondisi memprihatinkan rumah warga pasca pergerakan tanah di Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Bantargadung, terlihat retakan dan tidak lagi layak huni/ Foto: Istimewa

“Yang bertahan sebenarnya ingin pindah, tapi tidak tahu harus ke mana,” kata Jamal.

Sebagian warga lain mencoba bertahan dengan membangun rumah secara swadaya meski dalam keterbatasan. Tercatat sekitar delapan rumah dibangun mandiri, sementara lainnya memilih mengungsi.

Kekhawatiran meningkat saat musim hujan tiba. Warga mengaku kerap merasakan getaran tanah dan kerusakan bangunan yang semakin parah.

“Kalau hujan selalu waswas. Pernah tembok rumah ambruk, tanah juga terasa bergerak,” ungkap Ujang (55).

Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan hanya soal ketersediaan lahan relokasi, tetapi juga keterbatasan biaya untuk membangun hunian baru. Tanpa bantuan pemerintah, relokasi dinilai sulit terealisasi.

 

Reporter: Juliansyah

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Syukuran Nelayan Ujung Genteng ke-60 Momentum Perjuangan Kesejahteraan Nelayan dan Pembangunan Dermaga Warisan Belanda

Kabar Daerah

PLN Sampaikan Penjelasan Terkait Gangguan Listrik, Fokus Lakukan Pemulihan Pasokan

Kabar Daerah

Relokasi Korban Bencana Ciengang dan Pasir Suren Belum Terwujud, BPBD Sukabumi Ungkap Penyebabnya! 

Kabar Daerah

Seleksi Pimpinan Baznas, Kemenag RI: Calon Terpilih Disiapkan Perkuat Program Pengentasan Kemiskinan

Kabar Daerah

Jalan Sukabumi Selatan Mulai Diaspal, Dongkrak Mobilitas Warga dan Distribusi Hasil Pertanian

Kabar Daerah

IPHI Jampangkulon Perkuat Ukhuwah Islamiyah dan Pembinaan Umat Melalui Syahriahan di Desa Tanjung

Kabar Daerah

Dugaan Penggunaan Syahadat Saat Kampanye Pilkada Dilaporkan ke Polisi, Nama Wali Kota Sukabumi Jadi Sorotan 

Kabar Daerah

Program MBG Tak Boleh Salah Sasaran, Camat Jampangkulon Perketat Sinkronisasi Data