Kondisi memprihatinkan rumah warga pasca pergerakan tanah di Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Bantargadung, terlihat retakan dan tidak lagi layak huni/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Puluhan warga Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, masih hidup dalam ancaman serius bencana tanah bergerak. Hingga Senin (27/4/2026),
Bencana yang mulai terdeteksi sejak 2022 kini semakin parah. Jika awalnya hanya retakan kecil, kondisi pada 2024 berkembang menjadi kerusakan luas yang berdampak pada sedikitnya 35 rumah, dengan 25 unit di antaranya mengalami kerusakan berat.
Sebagian warga terpaksa bertahan di rumah yang rawan ambruk, sementara lainnya mengungsi secara mandiri atau menumpang di rumah kerabat.
“Awalnya belum terlalu parah, tapi sejak 2024 dampaknya makin besar. Sampai sekarang belum ada kepastian relokasi,” ujar Jamal (37), warga setempat.
Harapan sempat muncul ketika lahan relokasi disebut tersedia di kawasan PT Citimu. Namun hingga kini, pembangunan hunian belum juga dimulai.
Warga mendesak pemerintah daerah segera memberikan kepastian, termasuk meminta Bupati Sukabumi turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi riil di lapangan.
Di tengah situasi tersebut, sekitar lima kepala keluarga masih bertahan di zona rawan karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal. Mereka tinggal di rumah yang sewaktu-waktu bisa terdampak pergerakan tanah susulan.

“Yang bertahan sebenarnya ingin pindah, tapi tidak tahu harus ke mana,” kata Jamal.
Sebagian warga lain mencoba bertahan dengan membangun rumah secara swadaya meski dalam keterbatasan. Tercatat sekitar delapan rumah dibangun mandiri, sementara lainnya memilih mengungsi.
- Baca Juga: https://mediaaksara.id/pp-tunas-akun-tiktok-tiba-tiba-diblokir-pengguna-panik-dan-bingung/
Kekhawatiran meningkat saat musim hujan tiba. Warga mengaku kerap merasakan getaran tanah dan kerusakan bangunan yang semakin parah.
“Kalau hujan selalu waswas. Pernah tembok rumah ambruk, tanah juga terasa bergerak,” ungkap Ujang (55).
Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan hanya soal ketersediaan lahan relokasi, tetapi juga keterbatasan biaya untuk membangun hunian baru. Tanpa bantuan pemerintah, relokasi dinilai sulit terealisasi.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







