Perhutani KPH Sukabumi memperkuat patroli dan membentuk enam pos pemantauan karhutla menyusul 18 titik api terpantau di wilayah Kabupaten Sukabumi / Foto: MediaAksara
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID— Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi memperkuat langkah pencegahan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul munculnya sejumlah titik panas di wilayah Sukabumi dalam beberapa waktu terakhir.
Wakil Kepala Perum Perhutani KPH Sukabumi, Aldy Juliansyah, mengatakan sejumlah kejadian kebakaran berada di kawasan yang berbatasan dengan hutan. Salah satunya tercatat di wilayah Jampang Tengah, termasuk pada area bekas tebangan.
”Memang kebakaran di Perum Perhutani rata-rata berbatasan dengan kawasan hutan. Kemarin ada yang di Jampang Tengah, di peta bekas tebangan itu sempat terjadi kebakaran,” ujar Aldy saat ditemui di kantornya, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, Perhutani telah melakukan komunikasi dengan masyarakat maupun pihak terkait di sekitar lokasi untuk mencegah pembakaran lahan yang berpotensi meluas ke kawasan hutan.
Baca Juga :
Dugaan Penipuan dan Penggelapan di Sukabumi Masih Disidik, Terlapor Jalani Pemeriksaan Polisi
Aldy menyebut berdasarkan pemantauan melalui laman Kementerian Kehutanan, terdapat sekitar 18 titik yang terpantau di wilayah Sukabumi pada pekan ini. Dari jumlah tersebut, tiga titik berada di kawasan hutan, sedangkan titik lainnya berada di luar kawasan hutan.
”Tiga titik itu memang kawasan KHDPK (Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus). Kita sudah melakukan pengembangan di sana supaya tidak terjadi pembakaran hutan,” katanya.
Aldy menegaskan pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat. Ia meminta warga yang berada di dalam maupun sekitar kawasan hutan menghindari aktivitas pembakaran lahan maupun sampah.
”Pada intinya kebakaran itu dari pelaku kita sendiri. Saya mengimbau semua masyarakat, baik yang berada di kawasan hutan maupun di sekitar atau di luar kawasan hutan, benar-benar menghindari membakar lahan, hutan maupun sampah,” tegasnya.
Baca Juga :
Kebakaran Hanguskan Rumah Warga di Kasepuhan Sirnaresmi Sukabumi, 5 KK Terdampak
Ia juga mengingatkan masyarakat yang melakukan aktivitas menggunakan api di kawasan hutan, seperti berkemah atau memasak, agar tidak meninggalkan api dalam kondisi menyala.
Menurutnya, api harus terus dipantau selama digunakan dan dipastikan benar-benar padam setelah aktivitas selesai.
”Ketika memang terpaksa harus melakukan kegiatan yang ada apinya, silakan dilakukan tetapi dipantau, jangan sampai ditinggalkan. Ketika sudah selesai, apinya harus dipadamkan sampai benar-benar padam,” jelas Aldy.
Sebagai bagian dari mitigasi, Perum Perhutani KPH Sukabumi juga melakukan penguatan sistem pemantauan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
Baca Juga :
Aldy mengatakan pelatihan dan apel siaga rutin dilakukan setiap tahun dengan melibatkan kepolisian serta berbagai pemangku kepentingan. Selain itu, Perhutani telah membentuk pos pemantauan kebakaran di enam BKPH yang berada di bawah KPH Sukabumi.
”Di enam BKPH yang ada sudah terbentuk masing-masing pos. Sudah ditunjuk siapa yang mengamati titik api dan siapa yang nanti langsung menuju titik api,” ungkapnya.
Peralatan pendukung juga telah disiapkan. Polisi hutan (Polhut) Perhutani secara rutin melakukan patroli menggunakan kendaraan untuk memastikan kondisi kawasan tetap terpantau.
”Kalau pemantauan titik api setiap hari ada. Nanti bisa dicek juga di aplikasi, karena setiap hari ada update titik api. Dari situ bisa diketahui mana yang berada di kawasan hutan dan mana yang di luar,” pungkasnya.
Dengan kondisi cuaca yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, Perhutani mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari penggunaan api secara sembarangan, terutama di sekitar kawasan hutan dan lahan yang mudah terbakar.
Reporter : Sr1
Redaktur: Rapik Utama







