Kepala Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Bangbang Nur Aripin diwawancara awak media/ Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID – Kepala Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Bangbang Nur Aripin, mengungkapkan saat ini hanya tersisa satu lokasi galian pasir yang masih tercatat beroperasi di wilayah Desa Titisan sepanjang tahun 2025.
Hal tersebut disampaikan Bangbang saat dikonfirmasi awak media terkait keberadaan perusahaan tambang serta program penghijauan yang seharusnya dilaksanakan oleh perusahaan di wilayahnya, Senin (5/1/2026).
“Di Desa Titisan saat ini hanya tersisa satu lokasi galian pasir yang masih tercatat, berdasarkan informasi dari Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat. Galian tersebut diwakili oleh satu pihak saja, sementara lokasi lain sudah tidak lagi beroperasi,” ujarnya.
Bangbang menegaskan bahwa kewajiban reklamasi tetap harus diingat dan dilaksanakan oleh pihak pengelola tambang. Menurutnya, ketika aktivitas galian sudah tidak produktif dan tidak lagi menghasilkan, maka operasional tambang otomatis berhenti, namun tanggung jawab lingkungan tidak boleh diabaikan.
“Untuk lokasi galian pasir yang sudah lama tidak berproduksi, sebagian besar sudah dilakukan reklamasi dan ditanami kembali. Bahkan kondisinya sekarang sudah menyerupai lahan pertanian,” jelasnya saat ditemui di Kantor Desa Titisan.
Ia menambahkan, dari sejumlah hektare lahan bekas tambang di wilayahnya, sebagian besar kini telah kembali dikelola oleh warga, dimanfaatkan untuk pertanian seperti padi dan tanaman lainnya. Meski demikian, masih terdapat beberapa titik yang berupa genangan air menyerupai danau, namun jumlahnya sangat terbatas.
“Yang masih berupa genangan danau itu hanya satu titik saja, milik PT HP. Selebihnya sudah banyak yang ditanami kembali oleh warga, kemungkinan melalui kerja sama dengan pemilik lahan,” tambahnya.
Sementara itu, terkait informasi adanya perusahaan yang disebut-sebut telah mulai mengaktifkan program penghijauan bersama pemerintah desa, Bangbang mengaku belum mendapatkan informasi maupun komunikasi resmi.
“Kalau soal itu, kami belum paham. Sampai sekarang juga belum ada komunikasi resmi dengan kami dari pihak perusahaan,” pungkasnya.
Redaktur: Rapik Utama







