Home / Kabar Daerah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 20:54 WIB

Film “Pesta Babi” Diputar di Sukabumi, SPI Singgung Ancaman PSN dan Konflik Agraria yang Disebut Sudah Terjadi

DPC SPI Kabupaten Sukabumi menggelar Malam Sinema Rakyat dengan pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” di Aula Merah Putih, Kp. Cilongok, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong/ Foto: Istimewa 

MEDIAAKSARA.ID — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Sukabumi menggelar Malam Sinema Rakyat dengan agenda nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” bertajuk “Kolonialisme di Zaman Kita”, Sabtu (30/5/2026) di Aula Merah Putih, Kampung Cilongok, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi.

Kegiatan dihadiri berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, masyarakat umum hingga petani. SPI memandang pemutaran film tersebut sebagai ruang pendidikan publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu agraria, lingkungan hidup, serta hak-hak masyarakat yang terdampak pembangunan.

Ketua DPC SPI Kabupaten Sukabumi, Rozak Daud, mengatakan film “Pesta Babi” dipilih karena mengandung pesan kuat mengenai eksploitasi sumber daya alam yang dinilai sering kali mengabaikan hak-hak masyarakat lokal.

“Melalui film ini kami ingin belajar dan memahami metafora yang disampaikan. Film ‘Pesta Babi’ merupakan bentuk kritik terhadap eksploitasi sumber daya alam oleh korporasi maupun elit yang berpotensi meminggirkan warga. Ini juga menjadi bentuk kepedulian sosial terhadap sesama anak bangsa yang hak-haknya tergusur secara tidak manusiawi,” ujar Rozak kepada MediaAksara.


Menurutnya, pelaksanaan nobar tidak memerlukan persiapan khusus karena isu-isu sosial dan agraria sudah menjadi bagian dari aktivitas pendampingan yang selama ini dilakukan SPI.

“Tidak ada persiapan khusus karena basis gerakan kami sudah terbiasa menghadapi berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat,” katanya.

Rozak juga memastikan hingga pelaksanaan kegiatan tidak terdapat pihak-pihak yang menghalangi maupun melarang agenda pemutaran film tersebut.

“Selama ini belum ada,”ucapnya singkat.

Lebih lanjut, Rozak menjelaskan kegiatan tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk memahami berbagai persoalan yang berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN), ruang hidup masyarakat, hak rakyat, serta keberlangsungan tradisi lokal.


Menurutnya, masyarakat harus dilibatkan secara adil dalam setiap proses pengambilan kebijakan yang berdampak terhadap wilayah tempat tinggal mereka.

DPC SPI Kabupaten Sukabumi menggelar mimbar rakyat di Aula Merah Putih, Kp. Cilongok, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong/ Foto: Istimewa
DPC SPI Kabupaten Sukabumi menggelar mimbar rakyat di Aula Merah Putih, Kp. Cilongok, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong/ Foto: Istimewa

“Publik harus terbuka matanya terkait ancaman Proyek Strategis Nasional terhadap ruang hidup, hak ulayat, dan tradisi masyarakat. Kami berharap masyarakat dilibatkan secara adil dan aspirasinya didengar dalam setiap kebijakan dengan pendekatan yang humanis,” tegasnya.



Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id



Rozak bahkan menilai sejumlah persoalan yang terjadi di Papua memiliki kemiripan dengan konflik agraria yang saat ini sedang berlangsung di beberapa wilayah Sukabumi, meskipun dengan karakter dan bentuk yang berbeda.

“Masalah yang terjadi di Papua sudah dan sedang terjadi di Sukabumi, hanya saja dengan cara yang berbeda. Karena itu lokasi kegiatan ini kami pilih di wilayah yang sedang menghadapi konflik agraria dan saat ini sedang kami advokasi,” ungkapnya.


Kepada masyarakat adat maupun warga yang menempati lahan eks Hak Guna Usaha (HGU), SPI mengimbau agar terus memperkuat solidaritas serta memahami hak-hak konstitusional mereka atas ruang hidup.

“Belajar dari film ini, masyarakat perlu meningkatkan solidaritas kolektif dan memperkuat pemahaman mengenai hak-hak legal serta konstitusional atas ruang hidup. Karena substansi persoalan dalam cerita ini bisa saja kita hadapi hari ini maupun di masa mendatang,” katanya.

SPI juga meminta masyarakat untuk mendokumentasikan dan melaporkan apabila menemukan tindakan intimidasi, kriminalisasi, ataupun kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayahnya kepada pihak berwenang.

Sementara kepada kalangan pengusaha maupun badan usaha yang menguasai lahan eks HGU dan HGB, Rozak berharap pesan dalam film tersebut dapat menjadi bahan refleksi dan evaluasi kebijakan.


“Film ini dapat menjadi bahan dialektika dan diskusi publik agar masyarakat semakin kritis. Kami juga berharap para pemegang HGU maupun HGB memiliki kesadaran terhadap penguasaan tanah yang masa haknya telah berakhir dan mengembalikannya kepada negara untuk ditata pemanfaatannya secara lebih adil bagi masyarakat,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Rozak mengajak seluruh pihak menyikapi substansi film dokumenter tersebut secara damai dan tetap menghormati perbedaan pandangan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Publik diharapkan menyikapi dokumenter ini secara damai serta menghargai pandangan yang yang berbeda,” pungkasnya.

 

Reporter: Sr1

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Waspada! Modus Lowongan Kerja Bodong Marak Saat Musim Kelulusan, Disnaker Sukabumi: Jangan Bayar untuk Dapat Kerja

Kabar Daerah

Menu MBG Ibu Hamil dan Balita di Sukabumi Tuai Kritik, SPPG Cijulang Jampangtengah Nonaktifkan Penerima

Kabar Daerah

Iduladha 1447 H, PT Liza Cristina Industry Tebar Kepedulian dan Perkuat Semangat Kebersamaan Karyawan

Kabar Daerah

Salurkan 25 Hewan Kurban ke Pelosok Sukabumi, Heri Gunawan: Berkorban Jauh Lebih Sulit daripada Memaafkan

Kabar Daerah

DPC PERADI CIBADAK Tebar Kepedulian di Idul Adha 1447 H, Perkuat Komitmen Bantuan Hukum untuk Masyarakat

Kabar Daerah

Sastrawan Asal Sukabumi Raih Apresiasi Nasional dari Badan Bahasa Kemendikdasmen

Kabar Daerah

BPBD Sukabumi Rutin Uji Sirine Tsunami, Pastikan Sistem Peringatan Dini Berfungsi

Kabar Daerah

Hikmah Iduladha di Benteng Brunei, Kurban Pererat Gotong Royong dan Persaudaraan Warga