Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki diwawancara awak media di Pendopo / Foto: MediaAksara
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID — Musim kemarau berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Debit sejumlah sungai menyusut, sementara sebagian masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, mengatakan dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
”Sebagaimana diketahui, saat ini Kabupaten Sukabumi telah terjadi kekeringan akibat dampak cuaca kemarau panjang. Hal ini juga mengakibatkan banyak sungai mengalami kekeringan, airnya surut atau menyusut,” kata Eki kepada awak media di Pendopo Sukabumi, Selasa (15/9/2026).
Menurut Eki, kondisi tersebut cukup berpengaruh terhadap masyarakat yang selama ini mengandalkan sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, termasuk mencuci dan keperluan sehari-hari lainnya.
Menghadapi kondisi ini, BPBD bersama sejumlah pemangku kepentingan melakukan pendistribusian air bersih kepada warga terdampak.
Baca Juga :
Eki menyebut, dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, sebanyak 25 kecamatan telah mengajukan bantuan pendistribusian air bersih.
”Kami berupaya untuk bisa memberikan pelayanan air bersih. Kami berkolaborasi dengan PDAM, kemudian dengan PMI dan lembaga lain serta relawan untuk bisa mendistribusikan air kepada masyarakat,” ujarnya.
Keterbatasan armada menjadi salah satu tantangan dalam pendistribusian air bersih mengingat wilayah Kabupaten Sukabumi yang sangat luas. Karena itu, BPBD melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
Eki juga mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Air bersih, kata dia, sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan agar persediaan yang tersedia dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.
”Berhemat menggunakan air, sehingga ketersediaan air itu bisa terjamin,” katanya.
Baca Juga :
Selain krisis air bersih, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sukabumi.
Eki mengatakan BPBD melakukan pemantauan terhadap kejadian kebakaran yang hampir setiap hari dilaporkan terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi.
Menurutnya, kondisi vegetasi yang mengering membuat lahan lebih mudah terbakar. Risiko semakin besar apabila masyarakat melakukan pembakaran sampah secara sembarangan atau membuang puntung rokok yang belum benar-benar padam.
”Dampak kekeringan cukup besar dan signifikan. Terutama pertama dari permasalahan air, dan yang kedua adalah permasalahan dengan kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Baca Juga :
PWI dan Bakom RI Soroti Masa Depan Pers, Wacana Keringanan Pajak Media Mengemuka
”Kemarau panjang membuat tumbuh-tumbuhan kering dan mudah terbakar. Kemudian masyarakat juga kadang-kadang secara sengaja maupun tidak sengaja membakar sampah dan sebagainya sehingga meluas,” ujarnya.
Eki menyebut kondisi penyusutan debit air telah dirasakan masyarakat selama hampir satu bulan.
Situasi itu membuat kebutuhan air menjadi semakin penting, termasuk untuk keperluan pemadaman ketika terjadi kebakaran.
”Hampir sebulan situasi seperti ini. Di satu sisi memang kita kekurangan air, di satu sisi juga kita memerlukan air untuk pemadaman dan lain sebagainya,” ungkapnya.
BPBD, lanjut Eki, terus berkoordinasi dengan berbagai stakeholder, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran, untuk memastikan kebutuhan air dalam penanganan kebakaran tetap dapat dipenuhi.
”Dengan komunikasi dan koordinasi dengan stakeholder, terutama dalam hal ini Dinas Damkar, kita senantiasa bisa membantu ketersediaan air,” pungkasnya.
Sumber: @S4lm
Redaktur: Rapik Utama







