Home / Kabar Daerah

Selasa, 28 April 2026 - 08:10 WIB

Nekat Bertahan di Rumah Retak: Kisah Penyadap Nira Hidup di Atas Ancaman Tanah Bergerak di Sukabumi

Korban penyintas seorang penyadap nira nekat bertahan di rumah retak akibat tanah bergerak di Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID – Ancaman bencana tanah bergerak masih menghantui warga Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di rumah rusak berat meski risiko terus mengintai.

Salah satunya Herdi (36), yang memilih tetap tinggal di rumahnya yang nyaris roboh. Dinding retak lebar, lantai berlubang, dan struktur bangunan yang mulai miring menjadi pemandangan sehari-hari yang harus ia hadapi bersama keluarganya.

Sejak peristiwa tanah bergerak pada Desember 2024, sejumlah warga telah melakukan relokasi mandiri. Namun keterbatasan ekonomi membuat Herdi tak memiliki pilihan selain bertahan.


“Kalau was-was pasti ada, apalagi saat hujan. Tanah seperti bergerak sedikit demi sedikit, kondisi rumah juga berubah,” ujar Herdi, Senin (27/4/2026).

Ia tinggal bersama istri, dua anaknya yang masih kecil, seorang adik, serta pamannya yang rumahnya telah lebih dulu ambruk akibat bencana serupa. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang gerak keluarga ini untuk mencari tempat tinggal yang lebih aman.

Korban penyintas seorang penyadap nira nekat  bertahan di rumah retak akibat tanah bergerak di Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa
Korban penyintas seorang penyadap nira nekat bertahan di rumah retak akibat tanah bergerak di Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa

Sebagai penyadap air nira untuk produksi gula aren, penghasilan Herdi hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk membangun rumah baru atau pindah ke lokasi lain, ia mengaku tidak mampu.


“Mau pindah juga bingung ke mana. Penghasilan saya di sini, tidak cukup untuk bangun rumah,” ungkapnya.

Malam hari menjadi waktu paling mencemaskan bagi keluarga Herdi. Hujan yang turun deras seringkali memicu kekhawatiran akan potensi longsor susulan dan kerusakan yang semakin parah.

Kondisi ini menggambarkan dampak berkepanjangan dari bencana, yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memerangkap korban dalam situasi tanpa kepastian.


Herdi berharap adanya perhatian dan langkah nyata dari pemerintah, khususnya terkait relokasi warga terdampak.

“Saya berharap ada bantuan atau relokasi. Anak-anak saya masih kecil, kami butuh tempat yang aman,” harapnya.

Hingga kini, warga yang masih bertahan hanya bisa menunggu kepastian, di tengah ancaman tanah yang terus bergerak dan rumah yang sewaktu-waktu bisa runtuh.

 

Reporter: Juliansyah

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Dugaan Alami Tindakan Tak Pantas Saat PKL, Siswi SMK Dapat Pendampingan Psikologis DP3A Sukabumi ‎

Kabar Daerah

Mastaka 2.034 Mahasiswa Baru dari 24 Provinsi, UMMI Tegaskan Kampus Inklusif dan Berprestasi

Kabar Daerah

BPJS Warga Sukabumi Kini Ditentukan Desil, Keluhan Membanjiri Medsos Dinsos: Janda Anak 3 Masuk Desil 9! 

Kabar Daerah

Jalan Penghubung Dua Desa di Jampangkulon Mulai Dibangun APBN Rp500 juta

Kabar Daerah

Bukan dari Kota, Siswi MTs Jampangkulon Juara 1 OMI Sukabumi dan Siap Berlaga di Tingkat Jabar

Kabar Daerah

Ribuan Penonton Padati Broken Versus Festival di Sukabumi, Nostalgia 25 Tahun Radja Tinggal Menunggu Waktu ‎

Kabar Daerah

Bukan Sekadar Lapak Buku! Poster Demokrasi ‘Prabowo dan Asep Japar’ Hiasi Mastaka UMMI 2026

Kabar Daerah

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau, Tokoh Pers Sukabumi Ajak Ketuk Pintu Langit