Halal Bihalal dirangkai Expose kegiatan unit pengelola zakat (UPZ) Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi/ Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID – Momentum pasca idulfitri 1447 H dimanfaatkan Kecamatan Gunungguruh gelar Halal Bihalal dirangkai Expose kegiatan unit pengelola zakat (UPZ) sebagai ajang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi lintas sektoral, bertempat di GOR PGRI Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi.
Camat Gunungguruh, Kusyana, menyebut kegiatan bukan sekadar tradisi saling memaafkan, melainkan bagian dari upaya membangun sinergi dan kolaborasi dalam mendorong pembangunan di tingkat kecamatan.
“Acara jadi momentum silaturahmi, kita jalin komunikasi bersama dengan berbagai pihak. Harapannya tentu sinergi semakin kuat,” ujarnya Senin (6/4/2026).
Dalam kesempatan itu, pihak kecamatan juga melepas dua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah menyelesaikan masa tugasnya. Pelepasan tersebut menjadi simbol apresiasi sekaligus bukti terbangunnya kebersamaan di lingkungan kerja.
Namun di balik upaya tersebut, Kusyana mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah perubahan pola pikir akan pentingnya kebersamaan dalam mencapai target pendapatan zakat infaq shadaqah (ZIS) oleh UPZ desa.

“Upaya kita ini belum bisa dikatakan naik signifikan, tapi juga tidak turun. Tantangannya memang cukup berat, karena kita harus mengubah mindset, baik internal maupun masyarakat,” ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya tetap optimistis. Upaya dilakukan secara bertahap dengan harapan capaian di tahun mendatang bisa lebih meningkat.
“Pelan-pelan kita lakukan. Mudah-mudahan tahun depan capaiannya bisa lebih baik,” tambahnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, capaian positif justru ditunjukkan oleh sejumlah desa. Dari total tujuh desa di Kecamatan Gunungguruh, tiga desa berhasil meraih penghargaan, yakni Desa Cibentang, Desa Kebonmanggu, dan Desa Sirnaresmi.
Ketiganya mencatatkan capaian di atas 50 persen, yang dinilai sebagai indikator kemajuan yang cukup signifikan.
Sementara dari sisi pendapatan, hasil yang diraih juga bervariasi. Desa Cibentang mencatatkan pendapatan hampir mencapai Rp35 juta. Adapun desa lainnya berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp25 juta.
“Memang variatif, tapi itu bagian dari proses. Yang jelas upaya dan kerja sudah maksimal, tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kondisi dan fenomena di masyarakat,” pungkas Kusyana.
Reporter: Sr1
Redaktur: Rapik Utama
Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id







