Warga terdampak pergerakan tanah saat diwawancara awak media di tenda pengungsian di SDN Bantargadung 1, Senin (2/3/2026) / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Bencana pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi menyisakan duka mendalam bagi warga. Retakan tanah yang terus melebar setiap kali hujan turun kini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan dan masa depan mereka.
Salah satu warga terdampak, Alisa (36), tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kondisi rumahnya yang rusak akibat pergerakan tanah. Dengan suara bergetar, ia menegaskan bencana ini baru terjadi setelah lahan di atas permukiman digunduli.
“Di atas itu pohon-pohon milik perkebunan karet sudah habis ditebang. Jadi ada pergerakan tanah dan dampaknya ke warga,” ujar Alisa saat ditemui di Posko Pengungsian di Lapang SDN 1 Bantargadung, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, proses perataan lahan telah berlangsung sejak 2025. Sejak saat itu, setiap hujan deras turun, air langsung mengalir ke permukiman warga di bawah lereng.
“Sebelumnya kami puluhan tahun tinggal di sini tidak pernah ada pergerakan tanah. Setelah lahan di atas digunduli dan diratakan, sekarang musibahnya ke warga,”ungkapnya.
Alisa mengaku sempat mendengar langsung aktivitas penebangan dan pengerukan lahan menggunakan alat berat.
“Saya dengar suara mesin senso, beko, dan dozer. Kedengeran sampai ke pemukiman. Dari bawah juga kelihatan lahannya sudah gundul,” katanya.
Ia menuturkan, warga sebenarnya telah berulang kali menyampaikan penolakan. Bahkan, pada 2025 lalu, warga sempat melakukan aksi protes ke kantor desa. Namun, aspirasi tersebut tak kunjung mendapat respons.
“Sudah pernah protes dan demo ke kantor desa, tapi tidak ditanggapi,” ucapnya.
Dari informasi yang beredar di kalangan warga, lahan tersebut rencananya akan dijadikan perkebunan buah-buahan sekaligus kandang sapi. Namun, Alisa menegaskan, tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
“Katanya mau dibuat kandang sapi dan kebun buah. Tapi tidak ada info ke warga. Harusnya ada sosialisasi dulu, apalagi dampaknya ke masyarakat,” tuturnya.
Ia menyayangkan minimnya komunikasi terbuka dari pihak terkait, terlebih dampak proyek kini dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di bawah lereng rawan longsor.
Harapan Alisa pun tegas, mewakili keresahan warga Cijambe lainnya.
“Kami ingin proyek itu di-stop. Harus ada pertanggungjawaban, termasuk relokasi dan penghijauan kembali. Kalau tidak dihijaukan, dampaknya akan terus ke warga di bawah, termasuk yang belum terdampak,” tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah segera menghadirkan solusi tempat tinggal yang layak bagi warga terdampak.
“Kita ingin ada pemukiman yang layak. Kemarin disuruh kumpul, tapi kumpul bagaimana? Makan juga tidak ada,” ucapnya .
Kini, di tengah ancaman retakan tanah yang terus bergerak, warga Kampung Cijambe hanya bisa berharap ada langkah cepat, tegas, dan nyata dari pihak berwenang sebelum bencana yang lebih besar kelak terjadi.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







