Home / Peristiwa

Senin, 2 Maret 2026 - 11:44 WIB

Tangis Warga Cijambe Pecah: Penebangan Pohon Perkebunan, Tanah Bergerak dan Hidup Retak 

Warga terdampak pergerakan tanah saat diwawancara awak media di tenda pengungsian di SDN Bantargadung 1, Senin (2/3/2026) / Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID – Bencana pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi menyisakan duka mendalam bagi warga. Retakan tanah yang terus melebar setiap kali hujan turun kini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan dan masa depan mereka.

Salah satu warga terdampak, Alisa (36), tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kondisi rumahnya yang rusak akibat pergerakan tanah. Dengan suara bergetar, ia menegaskan bencana ini baru terjadi setelah lahan di atas permukiman digunduli.

“Di atas itu pohon-pohon milik perkebunan karet sudah habis ditebang. Jadi ada pergerakan tanah dan dampaknya ke warga,” ujar Alisa saat ditemui di Posko Pengungsian di Lapang SDN 1 Bantargadung, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, proses perataan lahan telah berlangsung sejak 2025. Sejak saat itu, setiap hujan deras turun, air langsung mengalir ke permukiman warga di bawah lereng.

“Sebelumnya kami puluhan tahun tinggal di sini tidak pernah ada pergerakan tanah. Setelah lahan di atas digunduli dan diratakan, sekarang musibahnya ke warga,”ungkapnya.

Alisa mengaku sempat mendengar langsung aktivitas penebangan dan pengerukan lahan menggunakan alat berat.

“Saya dengar suara mesin senso, beko, dan dozer. Kedengeran sampai ke pemukiman. Dari bawah juga kelihatan lahannya sudah gundul,” katanya.

Ia menuturkan, warga sebenarnya telah berulang kali menyampaikan penolakan. Bahkan, pada 2025 lalu, warga sempat melakukan aksi protes ke kantor desa. Namun, aspirasi tersebut tak kunjung mendapat respons.

“Sudah pernah protes dan demo ke kantor desa, tapi tidak ditanggapi,” ucapnya.

Dari informasi yang beredar di kalangan warga, lahan tersebut rencananya akan dijadikan perkebunan buah-buahan sekaligus kandang sapi. Namun, Alisa menegaskan, tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

“Katanya mau dibuat kandang sapi dan kebun buah. Tapi tidak ada info ke warga. Harusnya ada sosialisasi dulu, apalagi dampaknya ke masyarakat,” tuturnya.

Ia menyayangkan minimnya komunikasi terbuka dari pihak terkait, terlebih dampak proyek kini dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di bawah lereng rawan longsor.

Harapan Alisa pun tegas, mewakili keresahan warga Cijambe lainnya.

“Kami ingin proyek itu di-stop. Harus ada pertanggungjawaban, termasuk relokasi dan penghijauan kembali. Kalau tidak dihijaukan, dampaknya akan terus ke warga di bawah, termasuk yang belum terdampak,” tegasnya.

Ia juga berharap pemerintah segera menghadirkan solusi tempat tinggal yang layak bagi warga terdampak.

“Kita ingin ada pemukiman yang layak. Kemarin disuruh kumpul, tapi kumpul bagaimana? Makan juga tidak ada,” ucapnya .

Kini, di tengah ancaman retakan tanah yang terus bergerak, warga Kampung Cijambe hanya bisa berharap ada langkah cepat, tegas, dan nyata dari pihak berwenang sebelum bencana yang lebih besar kelak terjadi.

 

Reporter: Juliansyah

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Peristiwa

Diduga Korsleting Listrik, Rumah Panggung di Sukamaju Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp100 Juta

Peristiwa

Kebakaran Lahan Kering Dekat KDMP dan RSUD Jampangkulon Berhasil Dipadamkan, Damkar Cegah Api Meluas

Peristiwa

Rumah Panggung di Sukabumi Hangus Terbakar, Diduga Korsleting Listrik

Peristiwa

Kecelakaan Dua Motor di Jampang, Satu Pengendara Luka Berat, Polisi Selidiki Dugaan Truk Kabur

Peristiwa

Krisis Air Perparah Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya, HILMI FPI Bersama Tim Gabungan Berjibaku Selamatkan Leuit Berisi Padi Usai Seren Taun

Peristiwa

Pelajar 15 Tahun Diduga Dianiaya Saat Pulang Futsal, Polres Sukabumi Buru Para Pelaku

Peristiwa

Kebakaran Kasepuhan Cipta Mulya Ludeskan 70 Rumah di Cisolok, TNI Tembus Terjal Evakuasi Bantu Masyarakat Adat

Peristiwa

Kebakaran Landa Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi, Puluhan Rumah Warga Hangus