Kepala DLH Kota Sukabumi Asep Irawan gencarkan gerakan “Kota Bersih dari Hulu ke Hilir” demi wujudkan kota bebas sampah / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus menggencarkan gerakan besar bertajuk “Kota Bersih dari Hulu ke Hilir” guna menekan perilaku membuang sampah sembarangan dan memperkuat sistem pengelolaan lingkungan di tingkat masyarakat.
Kepala DLH Kota Sukabumi, Asep Irawan, mengungkapkan hingga saat ini, tingkat pengelolaan sampah di lingkungan baru mencapai 23 persen, sementara sebagian besar masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bahkan, sekitar 8 persen sampah masih dibuang sembarangan ke lahan kosong, selokan, hingga sungai.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius. Karena itu, kami terus menggalakkan pengelolaan sampah berbasis lingkungan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan,” ujar Asep, Senin (20/10/2025).
Sebagai langkah nyata, Pemkot Sukabumi bersama DLH melakukan sosialisasi masif ke berbagai wilayah, melibatkan langsung Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sukabumi. Edukasi publik difokuskan pada pentingnya memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
“Pengelolaan sampah bukan hanya urusan pemerintah, tapi tanggung jawab bersama untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan,” jelasnya.
DLH juga tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang sudah beroperasi di sejumlah wilayah. Evaluasi ini penting untuk menilai efektivitas, sekaligus mengidentifikasi kekurangan yang perlu dibenahi.
“Kami sudah memetakan wilayah yang belum memiliki TPS3R. Ke depan, di lokasi-lokasi tersebut akan dibangun TPS3R baru agar masyarakat punya akses membuang sampah dengan benar,” kata Asep.
Selain itu, DLH mendorong optimalisasi TPS3R lama agar bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti kompos dari sampah organik dan barang daur ulang dari sampah anorganik.
Keterbatasan armada pengangkut menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, DLH mengembangkan sistem pengangkutan berbasis roda sampah atau gerobak lingkungan.
“Tidak semua wilayah bisa dijangkau mobil operasional. Karena itu, kami maksimalkan penggunaan gerobak sampah di lingkungan. Dari titik kumpul di TPS3R, barulah diangkut ke TPA oleh kendaraan DLH,” terang Asep.
Reporter: Ronald Alexander
Redaktur: Rapik Utama







