Kemenag bersama MUI, Kesbangpol dan berbagai unsur saat deklarasi pernyataan komitmen cegah konflik sosial berdimensi keagamaan di aula Kemenag Kabupaten Sukabumi / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Upaya menjaga kerukunan di tengah keberagaman sosial dan keagamaan, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merawat Kebersamaan, Meneguhkan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman”, Kamis (10/07/2025), di Aula Kemenag Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi.
FGD menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah daerah, tokoh agama, organisasi masyarakat, hingga akademisi, untuk bersama merumuskan langkah konkret mencegah konflik sosial bernuansa keagamaan.
“Dalam forum, para peserta menyepakati satu pernyataan komitmen bersama mendukung langkah strategis menjaga keharmonisan antarumat beragama,” ujar Kepala Seksi Bimas Islam, Deddy Wijaya.
Lima poin komitmen bersama disepakati dalam deklarasi, yaitu:
1. Menjamin hak beribadah seluruh warga negara.
2. Menangani konflik secara inklusif dan tanpa kekerasan.
3. Menanamkan nilai-nilai bina damai.
4. Mendorong moderasi beragama sebagai pilar ketahanan sosial.
5. Membangun kolaborasi lintas sektor menuju masyarakat damai dan harmonis.
Deddy menjelaskan, kegiatan merupakan bagian dari program nasional yang dijalankan oleh Direktorat Bimas Islam Kemenag RI, dan secara geografis Kabupaten Sukabumi termasuk dalam Zona II (Jawa dan Bali). Fokus utama kegiatan adalah penguatan deteksi dini terhadap potensi konflik sosial keagamaan serta penguatan upaya pencegahannya.
“Kami mengundang MUI, ormas Islam, dan unsur pemerintah daerah untuk menyatukan langkah dalam menjaga keharmonisan antar dan intraumat beragama,” terangnya.
Baca: https://mediaaksara.id/lebaran-yatim-difabel-kua-sukaraja-tanam-nilai-empati-sambut-muharram-1447-h/
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi langsung kepada masyarakat mengenai regulasi kehidupan beragama. Minimnya pemahaman terhadap aturan hukum kerap menjadi pemicu kesalahpahaman yang berujung konflik.
” Materi edukasi menyangkut regulasi dan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah. Kami telah menurunkan tim ke lapangan untuk menyampaikan hal ini secara langsung,” ungkapnya.
Menurutnya, konflik sosial sering kali dipicu oleh kesalahpahaman yang tidak terjembatani oleh komunikasi yang baik. “Ke depan, sosialisasi akan lebih kita perluas agar menyentuh semua lapisan masyarakat,” imbuhnya.
Reporter : De
Redaktur: Rapik Utama







