Home / Kabar Daerah

Selasa, 7 Oktober 2025 - 08:06 WIB

Orangtua Keluhkan Makanan MBG di Sukaraja Ayam Bau, Sayur Asam, Buah Busuk. KNPI: Transparansi Anggaran SPPG

Menu MBG dari SPPG Yayasan Khasanah Ibu Bahagia di SDN 4 Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi / Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Pemerintah kembali menuai sorotan tajam. Sejumlah orangtua siswa penerima manfaat di Kecamatan Sukaraja mengeluhkan kualitas makanan yang disajikan tidak layak konsumsi, mulai dari buah busuk, ayam berbau, hingga sayur berulat.

Keluhan awal datang dari orangtua siswa SDN 4 Pasirhalang, Rizki Lestari (36). Ia mengaku kecewa dengan mutu makanan yang diterima anaknya dari dapur MBG di bawah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Khasanah Ibu Bahagia yang berlokasi di Jalan Raya Sukaraja, Desa Pasirhalang, Kabupaten Sukabumi.

“Pernah anak saya bawa pulang jeruk busuk, diganti salak yang juga busuk. Kadang ayamnya bau, sayurnya asam, bahkan pernah ada ulat di sawi. Anak-anak jadi nggak mau makan,” ujarnya, Senin (6/10/2025).

Baca:https://mediaaksara.id/bea-cukai-bogor-dan-satpol-pp-sukabumi-gempur-rokok-ilegal-masyarakat-didorong-aktif-melapor/

Rizki menuturkan, para wali murid sudah berulang kali melaporkan keluhan tersebut, namun belum ada perbaikan berarti. Ia juga menyoroti menu yang tidak sesuai harapan dan porsi camilan yang tidak konsisten.

“Katanya setiap snack dua item, tapi kadang cuma satu. Alasannya kejar waktu. Kalau lauk, sering ayam masih berdarah atau telur dadar tipis dibagi dua kotak makan. Ini soal kebersihan dan gizi anak, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.

Ketua PK KNPI Kecamatan Sukaraja, Agus Mulyana, turut membenarkan banyaknya keluhan dari orangtua siswa. Ia bahkan telah meninjau langsung dapur MBG Yayasan Khasanah Ibu Bahagia dan menemukan proses masak tanpa tenaga ahli gizi atau juru masak profesional.

Baca:https://mediaaksara.id/hari-kedua-pencarian-zidan-di-sungai-cimandiri-masih-nihil-tim-sar-lanjutkan-pemantauan-hingga-malam/

“Saya heran, program sebesar ini tapi dikerjakan oleh ibu-ibu hajatan tanpa pendamping ahli. Alasannya mahal, padahal ini soal kesehatan anak. Kualitas ayam bau, telur tidak segar, dan porsi tak sesuai nilai Rp10 ribu per anak,” jelas Agus.

Menu MBG dari SPPG Yayasan Khasanah Ibu Bahagia di SDN 4 Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi / Foto: Istimewa
Menu MBG dari SPPG Yayasan Khasanah Ibu Bahagia di SDN 4 Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi / Foto: Istimewa

Ia juga menyoroti minimnya transparansi anggaran dan lemahnya pengawasan virtual. Menurutnya, uang rakyat harus dipertanggungjawabkan dengan standar mutu yang jelas.

“Kalau dihitung, porsi makanan hanya sepadan Rp7 ribu. Sisanya ke mana? Semua transaksi virtual, tapi siapa yang awasi akun dapur itu?” ujarnya.

Baca:https://mediaaksara.id/pemangkasan-rp700-miliar-komisi-iii-dprd-sukabumi-dorong-opd-dan-perumda-fokus-program-berdampak-ekonomi/

Agus menambahkan, dapur MBG seharusnya memberdayakan UMKM dan petani lokal, sesuai semangat program Presiden. Namun kenyataan di lapangan berbeda.

“Beras dan sayur malah ambil dari Cianjur. Lalu di mana manfaatnya untuk warga Sukabumi?” sindirnya.

Kepala SDN 4 Pasirhalang, Herni Idawati, mengakui pihak sekolah telah beberapa kali menyampaikan keluhan terkait kualitas dan variasi menu MBG.

Baca: https://mediaaksara.id/lpk-jadi-gerbang-tenaga-kerja-sukabumi-ke-jepang-ketua-kadin-tekankan-pentingnya-jaringan-dan-legalitas/

“Kalau ada keluhan langsung kami sampaikan. Biasanya mereka tanggapi cepat, misalnya buah busuk langsung diganti. Tapi memang variasi menu masih perlu ditingkatkan, terutama telur utuh dan bagian ayam,” jelas Herni.

Ia menegaskan, secara umum program MBG tetap membawa manfaat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Namun pengawasan harus diperketat agar gizi dan higienitas makanan terjaga.

Kepala SPPG Yayasan Khasanah Ibu Bahagia, Milenito S, tidak menampik adanya keluhan tersebut. Ia mengaku pihaknya selalu mengganti menu bila ditemukan masalah.

Baca: https://mediaaksara.id/jasad-arka-ditemukan-tim-sar-gabungan-di-sungai-cimandiri-zidan-masih-dalam-pencarian/

“Kalau ada sayur ada ulat atau buah kurang bagus, kami ganti hari itu juga. Kami memproduksi ribuan porsi setiap hari, jadi bisa saja ada yang luput, tapi kami bertanggung jawab mengganti,” kata Milenito.

Ia menegaskan dapurnya tetap berkomitmen menjaga kualitas makanan dengan pemilihan bahan segar dan proses higienis.

“Kami terbuka terhadap pengawasan. Tujuan kami sama, memastikan anak-anak mendapat makanan sehat dan bergizi,” pungkasnya.

 

Sumber: @ Dens

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Lutung Jawa Bertahan di Desa Penyangga TNGHS, Indikator Kesehatan Hutan Jawa Barat

Kabar Daerah

Sekolah Rusak, Smartboard di Rumah: Ulah Baru Kepsek! Klarifikasi ‘Beres’ SDN Kaum Bikin Penasaran

Kabar Daerah

Kumis Ucing, Warisan Obat Tradisional dari Pekarangan Desa Penyangga Halimun

Kabar Daerah

Konferensi PWI Sukabumi 2026 Makin Dekat, Jabar Turun Tangan Kawal Suksesi Kepemimpinan

Kabar Daerah

Tak Sekadar Masak! Dinkes Sukabumi Latih Penjamah Makanan SPPG Demi Standar Nasional

Kabar Daerah

Sekolah Rusak, Harapan 57 Pelajar: Begini Potret SDN Kaum Hegarmanah Sukabumi

Kabar Daerah

UMKM Lokal Naik Kelas: S&F Shoes Sukabumi Tawarkan Sandal Berkualitas Harga Bersaing

Kabar Daerah

HHBK Dongkrak Ekonomi Desa: Madu Trigona hingga Kopi Cipeuteuy Mulai Dilirik Pasar