Antrian peserta dalam kegiatan reuni akbar SMANTI yang menghadirkan Ari Lasso / Foto: MediaAksara
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID — Pola kerja sama antara organisasi dan media partner kembali menjadi sorotan. Mekanisme kemitraan dinilai perlu dibangun secara transparan, komunikatif, dan profesional, terlebih ketika kegiatan yang diberitakan berkaitan dengan kepentingan publik.
Sekretaris Satu Ikatan, Satu Semangat, Satu Kebanggaan (IKA) SMANTI, Nisa Sunari, menegaskan keterlibatan media partner dalam sejumlah kegiatan IKA tidak selalu berawal dari organisasi yang mencari atau mengundang media tertentu.
Menurut Nisa, kondisi tersebut terjadi karena IKA telah berdiri sejak 2011 dan keberadaannya sudah cukup dikenal masyarakat maupun kalangan media.
“Karena IKA merupakan organisasi yang sudah terbentuk cukup lama, sejak 2011, sehingga sudah banyak orang yang mengetahui keberadaan dan kegiatan kami. Termasuk media partner, dalam beberapa kesempatan justru mereka yang menawarkan kerja sama kepada pihak IKA,” ujar Nisa saat dikonfirmasi terkait kehadiran Ari Lasso dalam reuni akbar di SMANTI, Minggu (9/8/2026).
Baca Juga :
Kecelakaan Ketiga dalam Sepekan! Truk Boks Tabrak Tiang Telepon di Jampangkulon
Nisa menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan IKA pada dasarnya bersifat sosial dan internal. Karena itu, pihak organisasi tidak secara khusus mengundang pihak luar untuk menghadiri kegiatan tersebut.
“Tidak ada alasan khusus. Kegiatan ini memang sifatnya sosial dan internal. Karena internal, kami memang tidak mengundang pihak lain. Tetapi, ada media partner yang mengetahui kegiatan tersebut kemudian datang atau menawarkan diri untuk bekerja sama dengan kami,” jelasnya.
Menurutnya, persoalan kemitraan media tidak semestinya hanya dilihat berdasarkan pihak mana yang terlebih dahulu mengundang atau menawarkan kerja sama.
Komunikasi dan jaringan profesional antara organisasi dan media, kata dia, justru menjadi bagian penting dalam membangun hubungan kemitraan yang berkelanjutan.
Baca Juga :
Politik Uang Mengintai Pemilu, Bawaslu Jabar Dorong Masyarakat Jadi Pengawas Partisipatif
Nisa yang mengaku memiliki latar belakang jurnalistik juga menilai organisasi profesi kewartawanan seperti PWI perlu memiliki pola kerja sama media yang jelas dan mandiri.
Ia menyebut komunikasi yang lebih intensif dengan berbagai pihak dapat menjadi salah satu cara membangun jaringan kemitraan yang sehat.
“Saya sendiri seorang jurnalis dan sebelumnya pernah menempuh pendidikan jurnalistik, jadi saya memahami seperti apa langkah-langkah dan mekanisme kerja sama dengan media. Kalau menurut saya, mungkin persoalannya lebih kepada kurang komunikasi,” katanya.
Ia menambahkan, ketertarikan media untuk menjadi partner dalam kegiatan IKA antara lain dipengaruhi oleh jangkauan media tersebut serta jumlah pengikut yang dimiliki.
Baca Juga :
KKN OVOD UMMI Gencarkan Gerakan REKABUMI di Desa Sindangraja, Sasar Lingkungan hingga Sekolah
“Jumlah pengikutnya banyak. Selain itu, semua orang juga sudah mengetahui media partner tersebut. Jadi, sebenarnya bagaimana mereka menawarkan kepada kami. Bukan berarti kami secara khusus mencari atau memilih media tersebut,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut sekaligus membuka diskusi yang lebih luas mengenai pola hubungan antara organisasi, media, dan organisasi profesi kewartawanan.
Kemitraan media idealnya tidak hanya diukur dari jumlah pengikut, popularitas, atau besarnya jangkauan sebuah platform. Aspek profesionalitas, independensi, kredibilitas, dan kualitas jurnalistik juga menjadi faktor penting.
Baca Juga :
Keterbukaan komunikasi antara organisasi dan media diperlukan untuk mencegah munculnya kesalahpahaman mengenai keterlibatan media dalam suatu kegiatan.
Di tengah perkembangan media digital dan semakin kuatnya pengaruh media sosial, organisasi juga dituntut lebih selektif dalam membangun kemitraan. Jangkauan publik memang penting, tetapi kerja sama yang sehat semestinya tetap diarahkan pada penyampaian informasi yang akurat, berimbang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, hubungan organisasi dan media bukan sekadar persoalan siapa yang mengundang dan siapa yang menawarkan kerja sama. Lebih jauh, kemitraan tersebut menyangkut kepercayaan publik dan bagaimana prinsip profesionalisme tetap dijaga di tengah perubahan ekosistem media.
Reporter: Ronald Alexsander
Redaktur: Rapik Utama







