Home / Pemerintahan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:27 WIB

RT/RW Sampai Turun ke Jalan, Ada Apa dengan Pemerintah? Abdul Kohar Bongkar Soal Kepekaan dan Prioritas APBD

Poster Anggota DPRD Kota Sukabumi Abdul Kohar menilai aksi dan kritik RT/RW menjadi sinyal hilangnya kepekaan birokrasi / Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID — Kritik tajam terhadap arah kebijakan pembangunan di Kota Sukabumi kembali mencuat. Anggota Komisi III DPRD Kota Sukabumi, Abdul Kohar dalam laman media sosial menyoroti munculnya aksi dan suara keras para RT/RW yang dinilai sebagai tanda menurunnya kepekaan birokrasi terhadap kebutuhan masyarakat bawah.

Dalam pernyataannya, Abdul Kohar dikutip awak media, menyebut perjuangan RT/RW bukan semata soal insentif ataupun angka dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Menurutnya, yang sedang diperjuangkan adalah keberpihakan pemerintah terhadap aspirasi masyarakat.

“Hari ini saya paham kenapa RT/RW sampai turun menyuarakan sikap. Karena yang mereka perjuangkan bukan sekadar insentif, melainkan tentang kepekaan yang mulai hilang dari birokrasi,” ujarnya.

Sekretaris Umum DPD PKS Kota Sukabumi itu menilai Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) seharusnya menjadi ruang demokrasi paling nyata dalam pembangunan daerah. Di forum itulah masyarakat menyampaikan kebutuhan, pemerintah mendengar, lalu kebijakan dijalankan berdasarkan kepentingan warga.


Namun menurutnya, realitas di lapangan justru berbeda. Banyak usulan masyarakat yang lahir dari tingkat bawah, telah diajukan bertahun-tahun, bahkan berulang kali, tetap dianggap bukan prioritas pembangunan.

“Di situlah rakyat mulai merasa, jangan-jangan yang dicari pemerintah hari ini bukan kebutuhan warga, tetapi kebutuhan pencitraan kekuasaan,” tegasnya.

Abdul Kohar juga menyinggung Program P2RW yang dinilai sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Meski tidak terlihat mewah dan tidak menjadi sorotan seremoni, program tersebut dianggap menyentuh kebutuhan dasar warga seperti jalan lingkungan, drainase, dan fasilitas permukiman.

“P2RW bukan proyek elit. Memang tidak viral di baliho atau pidato, tetapi justru di situlah denyut kebutuhan rakyat kecil berada,” katanya.


Ia menilai RT/RW selama ini sering hanya dijadikan pelengkap demokrasi. Ketika dibutuhkan, mereka diminta aktif membantu pemerintah. Namun saat mulai menyuarakan kebutuhan prioritas masyarakat, suara mereka justru kerap diabaikan.

Sebagai anggota DPRD, Abdul Kohar menegaskan persoalan anggaran bukan sekadar ada atau tidak adanya uang daerah. Lebih dari itu, APBD merupakan cerminan keberpihakan politik pemerintah terhadap rakyat.


“APBD itu cermin moral politik. Siapa yang didahulukan, di situlah watak kekuasaan terlihat,” ujarnya.

Ia pun meminta agar kritik dan suara RT/RW tidak dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Menurutnya, suara tersebut justru menjadi pengingat agar pemerintah tetap membuka ruang mendengar aspirasi masyarakat kecil.

“Ketika RT/RW bersuara keras hari ini, jangan buru-buru menuduh mereka melawan pemerintah. Bisa jadi mereka hanya sedang mengingatkan pemerintah agar kembali mendengar rakyat,” pungkasnya.

 

Reporter: Sr1

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Pemerintahan

PELITA Cibadak Gaungkan Literasi Anak Usia Dini, Siapkan Generasi Emas Sukabumi

Pemerintahan

SPMB 2026 Resmi Disosialisasikan! KCD Wilayah V Libatkan Camat dan Kades untuk Kawal Penerimaan Siswa Baru

Pemerintahan

SPMB 2026 Jawa Barat Disosialisasikan KCD V, Sekolah Maung di Sukabumi Hanya Ada Tiga

Pemerintahan

Cegah Pelanggaran Hukum dan TPPO, Timpora Sukabumi Perketat Pengawasan WNA

Pemerintahan

PLN Sukabumi Hadirkan Listrik Gratis Lewat Program LUTD, Warga Desa Giri Mukti Kini Nikmati Terang dan Harapan Baru

Pemerintahan

20 Proyek SDA Sukabumi Mulai Bergerak, Dinas PU Warning Keras Rekanan Nakal!

Pemerintahan

Kas Kota Sukabumi Menipis? Ayep Zaki Akui Tukin ASN Terlambat dan Proyek Tersendat

Pemerintahan

DPU Sukabumi Dorong Kolaborasi Pengelolaan Air Demi Ketahanan Pangan Nasional