Daun harendong bulu (Clidemia hirta) sebagai obat alami tumbuh di wilayah penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi/ Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID — Di kawasan desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), tumbuh tanaman liar yang kerap dianggap sepele: harendong bulu. Meski sering dikategorikan sebagai gulma, tanaman ini justru menyimpan manfaat penting bagi masyarakat sekitar.
Secara turun-temurun, warga memanfaatkan harendong bulu sebagai obat alami. Daunnya dipetik, diremas, lalu ditempelkan pada luka ringan untuk membantu menghentikan pendarahan.
“Kalau luka, langsung pakai ini. Cepat kering,” ujar Warti (48), warga Desa Cipeuteuy.
Secara ilmiah, tanaman dengan nama latin Clidemia hirta ini mengandung flavonoid dan tanin yang berfungsi sebagai antibakteri sekaligus membantu proses penyembuhan luka.
Meski tumbuh liar dan cepat menyebar, harendong bulu tetap menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat desa. Namun, pengetahuan ini perlahan mulai memudar seiring perubahan zaman, terutama di kalangan generasi muda.
Padahal, tanaman sederhana di sekitar hutan seperti harendong bulu membuktikan alam tidak hanya menyediakan sumber daya fisik, tetapi juga menyimpan pengetahuan berharga yang layak dilestarikan.
Reporter: Asep M-Rhe
Redaktur: Rapik Utama







