Home / Nasional

Senin, 20 April 2026 - 20:49 WIB

KPK Soroti Celah Korupsi Sistemik, Rekomendasi Bisa Mandek Tanpa Komitmen Lembaga

Juru Bicara KPK RI Budi Prasetyo saat memberikan pernyataan di Kantor KPK RI/ Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI menegaskan perannya tidak hanya sebagai penindak, tetapi juga sebagai pengawal pencegahan korupsi dalam program prioritas nasional. Melalui kajian Direktorat Monitoring, KPK kini memperkuat pendekatan berbasis analisis untuk menutup celah korupsi sejak dini.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, pada Jumat (17/4/2026) menyampaikan KPK mendukung agenda prioritas pemerintah dengan catatan pengawasan ketat melalui kajian komprehensif.

“Pada prinsipnya, KPK mendukung program-program prioritas nasional, termasuk melalui kajian Direktorat Monitoring sebagai bagian dari fungsi pencegahan korupsi,” ujarnya.

Menurutnya, kajian tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan proses mendalam yang mencakup analisis hingga diagnosis potensi tindak pidana korupsi. Dari proses ini, KPK memetakan titik rawan penyimpangan yang berpotensi terjadi di berbagai sektor.

“Melalui kajian tersebut, tim melakukan analisis dan diagnosis terkait potensi terjadinya tindak pidana korupsi, sehingga dapat terlihat permasalahan secara lebih jelas,” jelasnya.

Hasil pemetaan kemudian dituangkan dalam bentuk rekomendasi perbaikan yang disampaikan kepada para pemangku kepentingan. Namun, efektivitas rekomendasi tersebut sangat bergantung pada komitmen institusi dalam menindaklanjutinya.

“Dari situ kita bisa memberikan rekomendasi perbaikan, dengan harapan dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan,” tambah Budi.

KPK juga telah mendistribusikan hasil kajian tersebut kepada berbagai pihak untuk ditelaah dan dianalisis lebih lanjut. Langkah ini membuka ruang evaluasi lintas sektor sekaligus menguji implementasi rekomendasi di lapangan.

Dalam konteks kolaborasi, KPK menyebut hasil kajian akan diselaraskan dengan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK). Sinergi lintas lembaga dinilai penting agar rekomendasi tidak berhenti sebagai dokumen administratif.

“Dengan banyak institusi yang terlibat, diharapkan mampu mendorong dan mendampingi upaya perbaikan dalam pencegahan korupsi,” pungkasnya.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai tantangan terbesar bukan pada kualitas kajian, melainkan konsistensi implementasi di tingkat kementerian dan pemerintah daerah. Tanpa pengawasan berkelanjutan serta sanksi tegas, rekomendasi berpotensi hanya menjadi arsip kebijakan.

Di tengah sorotan publik terhadap efektivitas pemberantasan korupsi, langkah KPK ini menjadi ujian: apakah pendekatan pencegahan berbasis kajian mampu menutup ruang korupsi, atau sekadar melengkapi penindakan yang selama ini lebih dominan.

 

Sumber: Akun KPK RI

Reporter: Juliansyah

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Nasional

Kepergian Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang: Dedikasi, Persatuan, dan Pesan Kehidupan Insan Pers

Nasional

Duka Nasional! Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat, Dunia Pers Berduka

Nasional

Viral Jelang 1 April! Isu BBM Naik Rp17 Ribu Bikin Panik, Pertamina Angkat Bicara

Nasional

Idulfitri 2026 Jatuh Kapan? Sidang Isbat 19 Maret Jadi Penentu Resmi 1 Syawal 1447 H

Nasional

Teladan Ramadan! Presiden Prabowo Serahkan Zakat di Istana Negara, Ajak Bangun Kekuatan Sosial Umat Lewat Baznas

Nasional

HUT ke-1 Danantara, Presiden Prabowo: Sovereign Wealth Fund Indonesia Kini Masuk Jajaran Terbesar Dunia

Nasional

Safari Ramadan di Ponpes Azzainiyyah, Bahlil Lahadalia: Pesantren Benteng Pancasila dan Masa Depan Bangsa

Nasional

Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Bakal Dinonaktifkan! Pemerintah Resmi Terapkan Aturan Baru Perlindungan Anak di Dunia Digital