Home / Kabar Daerah

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:47 WIB

Kritis! Puluhan Dapur MBG di Sukabumi Disorot, BEM PTNU Temukan Dugaan IPAL dan Amdal SPPG Belum Tuntas

Koordinator Wilayah BEM PTNU Sukabumi Raya usai audiensi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Rabu (18/2/2026)./ Foto: Istimewa 

MEDIAAKSARA.ID – Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kota Sukabumi kini menjadi sorotan tajam mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Sukabumi Raya menilai puluhan dapur MBG yang telah beroperasi diduga belum sepenuhnya menyelesaikan aspek perizinan dan dokumen lingkungan hidup.

Koordinator Wilayah BEM PTNU Sukabumi Raya, Aceng Supyan, mengungkapkan berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat sekitar 54 hingga 60 SPPG yang saat ini aktif beroperasi. Namun, dari penelusuran awal di sekitar 30 titik dapur, ditemukan dugaan belum rampungnya dokumen krusial, khususnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Yang paling mendasar itu IPAL dan Amdalnya. Ini bukan persoalan sepele, karena berkaitan dengan limbah dapur dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar,” ujar Aceng, Rabu (18/2/2026).

BEM PTNU mengaku menerima sejumlah aduan masyarakat yang terdampak aktivitas dapur MBG, terutama terkait air limbah dan pengelolaan sampah dapur yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.

Aduan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Sukabumi. Dalam pertemuan, mahasiswa menegaskan pengelolaan lingkungan wajib berpedoman pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 serta Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2021.

Selain IPAL dan Amdal, mahasiswa juga mempertanyakan kelengkapan dokumen UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan) serta legalitas administratif lainnya.

“Kalau bicara kepastian hukum, setiap dapur MBG wajib mengikuti aturan teknis dan juknis. Jika administrasinya belum tuntas, harus segera diselesaikan karena dampaknya dirasakan langsung oleh warga,” tegas Aceng usai audiensi.

Selama audiensi, pihak DLH, kata Aceng, mengakui adanya kendala penginputan data dan pengawasan teknis di lapangan. Keterbatasan akses informasi serta jumlah dapur yang terus bertambah menjadi tantangan tersendiri bagi pengawasan lingkungan.

Namun, BEM PTNU menyoroti pernyataan dinas yang menyebut pengelolaan limbah MBG menjadi tanggung jawab masing-masing dapur. Menurut mahasiswa, sikap tersebut tetap harus diiringi pengawasan ketat dan kepastian regulasi dari pemerintah daerah.

“Pertanyaannya, apakah semua dapur mampu mengelola limbahnya secara mandiri sesuai standar? Ini harus dijawab secara terbuka,” tambah Aceng.

BEM PTNU menilai kewenangan pengawasan tertinggi berada di tangan Wali Kota Sukabumi bersama Satgas MBG. Mahasiswa mempertanyakan sejauh mana pengawasan dilakukan, apakah hanya administratif atau sebatas kunjungan seremonial.

Sebagai langkah lanjutan, BEM PTNU berencana mengajukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Kota Sukabumi, serta membuka ruang dialog bersama unsur Forkopimda.

Sementara itu, Wakil Direktur Kajian Strategis dan Advokasi Nasional BEM PTNU se-Nusantara, Muhammad Soleh Hudin, menegaskan sikap kritis mahasiswa merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial terhadap program strategis nasional.

“Program MBG kami dukung penuh. Tapi pelaksanaannya harus patuh pada prosedur dan aturan lingkungan. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan masalah baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, BEM PTNU akan mendorong isu ini hingga tingkat provinsi dan nasional, termasuk melalui kanal digital agar mendapat perhatian Badan Gizi Nasional.

Terkait dugaan intimidasi terhadap pihak-pihak yang menyampaikan kritik, mahasiswa menilai hal tersebut sebagai dinamika yang tidak boleh menghambat aspirasi publik.

“Sebagai mahasiswa, kami tetap objektif. Program presiden harus berjalan, tapi tata kelola lingkungan juga harus tertib,” pungkasnya.

BEM PTNU berharap pemerintah daerah segera menerbitkan surat peringatan atau imbauan resmi kepada seluruh SPPG di Kota Sukabumi agar segera menuntaskan dokumen perizinan dan sertifikasi lingkungan, demi keberlanjutan program MBG serta kenyamanan masyarakat.

 

Reporter: Ronald Alexsander

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Kader Demokrat Turun ke Pantai Citepus, Gerakan Indonesia Asri Langit Biru Gaungkan Aksi Nyata Selamatkan Lingkungan

Kabar Daerah

Heri Gunawan Desak Evaluasi Total Program MBG, Soroti Dugaan Susu Kedaluwarsa Penyebab Puluhan Siswa Keracunan

Kabar Daerah

MUI Kabupaten Sukabumi Kunjungi Kasepuhan Ciptamulya, Sampaikan Doa bagi Korban Kebakaran

Kabar Daerah

Diduga Abai Atau Sengaja? Sungai Berubah Keruh, Warga Cikembar Riskan Limbah Batu Hijau Cemari Sumber Air Bersih

Kabar Daerah

Resmi Bertransformasi, Perumda BPR Sukabumi Kini Bernama PT Bank Perekonomian Rakyat Sukabumi (Perseroda)

Kabar Daerah

Relawan KDM Sukabumi Salurkan Bantuan Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya

Kabar Daerah

Kasus 39 Siswa Diduga Keracunan MBG di SPPG Cibadak, Dinkes Sukabumi Temukan Susu Expired dan Tunggu Hasil Lab

Kabar Daerah

ESDM Jabar Tutup Tiga dari Sepuluh Tambang Batu Hijau di Cikembar! Ancaman PETI di Pidana hingga Denda Rp100 Miliar