Home / Sosial Ekonomi

Selasa, 23 September 2025 - 21:36 WIB

Viral Warga Suradita Disebut Terlantar, Relawan Kemanusiaan Minta Maaf: Kades Klarifikasi Ibu Kartin Prioritas Bansos! 

Klarifikasi Kepala Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Yudius Hidayat Bagja dihadapan Ibu Kartin serta perangkat dusun dan RT saat diwawancara awak media / Foto: Istimewa 

MEDIAAKSARA.ID – Asep Nugraha, relawan kemanusiaan sekaligus pemilik akun TikTok, akhirnya menyampaikan permintaan maaf terkait video unggahannya yang menyebut Ibu Kartin, warga Kampung Balekambang, RT 15/RW 07, Kedusunan Suradita, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, diterlantarkan oleh pemerintah desa.

Cuplikan video Asep menampilkan kondisi Ibu Kartin, warga dengan keterbatasan fisik dan mental yang masih tinggal di zona merah pergerakan tanah. Dalam narasinya, Ia menyebut Ibu Kartin tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah desa.

Namun, setelah mendapat klarifikasi dari Kepala Desa Ciengang, Yudius Hidayat Bagja, beserta perangkat dusun dan RT setempat, Asep mengakui informasinya tidak akurat.

Baca: https://mediaaksara.id/pabrik-batu-kapur-di-cikembar-sukabumi-terbakar-kerugian-capai-rp250-juta/

“Ibu Kartin sejak lama menjadi prioritas penerima bantuan. Mulai tahun 2017 hingga 2025, beliau mendapat bantuan sosial, termasuk program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) Rp4 juta dari Dinas Sosial, serta Bantuan Langsung Tunai (BLT) secara rutin,” tegas Yudius saat mendampingi Ibu Kartin, Senin (22/9/2025).

Yudius menegaskan, pemerintah desa tidak pernah menelantarkan warganya. Meski demikian, pihaknya menjadikan isu viral ini sebagai bahan evaluasi meningkatkan pelayanan.

Di kesempatan yang sama, Asep Nugraha mengakui kekeliruannya. Ia menjelaskan unggahan video dibuat berdasarkan informasi verbal dari warga yang ternyata tidak valid.

Baca: https://mediaaksara.id/komisi-i-dprd-dan-pwi-sukabumi-kupas-isu-agraria-desa-cek-kilas-bahasannya/

“Video itu murni niat kemanusiaan untuk mendorong relokasi Ibu Kartin ke tempat aman. Namun data yang saya peroleh ternyata tidak akurat. Saya minta maaf kepada semua pihak,” ujar Asep.

Asep juga menyerukan kolaborasi dengan pemerintah desa untuk mempercepat relokasi warga di zona merah pergerakan tanah. Ia meminta dukungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga pemerintah pusat agar proses relokasi segera dilakukan.

“Selain Ibu Kartin, masih banyak warga lain yang belum mampu relokasi mandiri karena keterbatasan ekonomi. Kami mohon perhatian dari Pemprov Jawa Barat dan pemerintah pusat,” tambahnya.

Baca:https://mediaaksara.id/muktamar-ppp-bukan-sekadar-rebutan-kursi-kekuasaan-kader-desak-perbaikan-sistem-partai/

Ketua RT 15/RW 07, Nikron, yang juga saudara kandung Ibu Kartin, menegaskan bahwa keluarganya tidak pernah terabaikan.

“Ibu Kartin selalu mendapatkan bantuan dari pemerintah desa maupun dinas sosial. Bahkan istri saya yang memasak untuk kebutuhan makan beliau. Relokasi sulit dilakukan karena beliau sendiri menolak pindah dari rumah yang dibangun melalui program Rutilahu,” jelas Nikron.

Menurutnya, kondisi rumah Kartin memang tampak tidak layak lantaran sebagian besar pembangunan di wilayah tersebut terhenti pasca bencana pergerakan tanah.

 

Sumber : Prima

Redaktur : Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Sosial Ekonomi

PLN UP3 Sukabumi dan YBM PLN Tebar Kepedulian, 50 Warga Desa Giri Mukti Terima Bantuan Sembako

Sosial Ekonomi

Janda Lansia di Jampangkulon Terima Bantuan Tunai Saat Rumah Dibangun, Wujud Nyata Kepedulian Sosial

Sosial Ekonomi

Bedah Rumah Janda Lansia di Sukabumi Masuk Tahap Atap, Bantuan Sembako Terus Mengalir

Sosial Ekonomi

Rp50 Ribu Tak Lagi Cukupkah? Potret Tekanan Ekonomi Rumah Tangga di Tengah Kenaikan Harga

Sosial Ekonomi

UMKM Parungkuda Antusias Ikuti Seleksi Program Naik Kelas Sukabumi 2026

Sosial Ekonomi

PLN UP3 Sukabumi Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Program Jumat Berbagi

Sosial Ekonomi

Solidaritas Jampangkulon Menginspirasi, Rutilahu Bu Nunung Dibangun Gotong Royong

Sosial Ekonomi

UMKM “Oleh-Oleh Si Teteh” di Sukabumi Bertahan Sejak 2018, Andalkan Rasa Khas dan Harga Terjangkau