Keprihatinan tampak dari tatapan warga terdampak bencana pergerakan tanah kampung Cijambe saat rapat relokasi di Kantor Desa- Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Suasana rapat relokasi bencana di kantor Desa/Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah haru. Seorang warga Kampung Cijambe, Jalal (58), tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan kegelisahannya di hadapan aparat kecamatan dan desa, Selasa (28/4/2026).
Dengan suara bergetar, Jalal memohon kejelasan terkait relokasi hunian tetap yang hingga kini belum juga pasti. Ia bahkan menyebut nama Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) , berharap ada perhatian serius terhadap nasib warga terdampak.
“Tolong saya Pak Camat, Pak Dedi Mulyadi… nasib kami bagaimana, Pak? Relokasi tidak pasti,” ucapnya lirih di tengah forum.
Tangis Jalal pecah bukan tanpa alasan. Ia mengaku telah kehilangan tempat tinggal akibat pergerakan tanah yang belum tertangani secara tuntas. Dalam kondisi tersebut, beban hidupnya semakin berat karena pendidikan anaknya turut terdampak.
Ia menyebut, sekolah anaknya di SMK Taruna Tunas Bangsa (TTB) terpaksa ditutup, sehingga masa depan pendidikan anaknya kini tidak menentu.
Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id
“Permasalahan tanah belum selesai. Anak saya sekolahnya ditutup. Bagaimana saya bisa fokus mencari nafkah, sementara saya sudah tidak punya rumah,” ujarnya sambil menitikkan air mata.
![]()
Kisah Jalal mencerminkan kegelisahan banyak warga penyintas bencana. Hingga kini, relokasi yang dijanjikan belum menunjukkan kepastian, sementara tekanan ekonomi dan sosial terus meningkat.
Di hadapan unsur pemerintah, suara Jalal menjadi simbol tuntutan warga akan kejelasan: kapan mereka benar-benar dipindahkan ke hunian yang aman dan layak.
Rapat yang diharapkan menjadi ruang solusi justru membuka kembali persoalan mendasar, mulai dari lambannya penanganan hingga minimnya kepastian bagi warga korban bencana.
Kini, harapan warga menggantung pada langkah nyata pemerintah. Apakah relokasi segera direalisasikan, atau jeritan warga hanya akan kembali menjadi catatan pilu yang terabaikan.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







