Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Abah Asep Nugraha / Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID – Seren Taun ke 446 digelar oleh Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu (13/7/2025), upacara adat kembali menjadi tonggak penting dalam menjaga identitas budaya dan spiritual masyarakat adat Sunda. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Nyoreang Alam Ka Tukang, Nyawang Alam Anu Bakal Datang (Menelusuri Alam Masa Lalu, Menatap Alam Masa Depan)”.
Rangkaian prosesi Seren Taun berlangsung meriah dan sakral. Upacara puncak diwarnai berbagai kesenian tradisional, mulai dari Angkat Ampih Pare Ka Leuit, Saresehan Adat, Kidung Buhun, Dongdang, Dog-dog Lojor, Rengkong, Gondang Buhun, Tari Tani, Seni Lais, dan Debus, serta tak ketinggalan, pameran UMKM dan bazar budaya turut menyemarakkan suasana.
Menurut Abah Asep Nugraha, Pimpinan Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Seren Taun bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud syukur masyarakat adat atas hasil bumi, dari awal bercocok tanam hingga panen kepada Sang Maha Kuasa.

“Lamun ningali mah ieu teh lain sakadar Serentaun hungkul. Di tilu kasepuhan mah aya 29 kali ritual sateacan Serentaun. Ieu Serentaun teh wujud rasa sukur, nu dimimitian ku ngagaru, ngawaluku, ngagali lemah, nepi ka ngagali liang. Tah ieu kabeh disampurnakeun ku unsur cai,” (Kalau dilihat, ini bukan sekadar Serentaun saja. Di tiga kasepuhan, ada 29 rangkaian ritual sebelum puncak Serentaun. Semuanya dimulai dari proses mengolah tanah hingga tanam, dan disempurnakan dengan unsur air), “urainya.
Dalam suasana penuh makna, Abah Asep mengingatkan pentingnya pelestarian nilai-nilai adat di tengah gempuran era modern dan digital. Ia menegaskan generasi muda tak boleh tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Masyarakat Adat Menampilkan beragam Seni Budaya Sunda, diantaranya “Rengkong” di Seren Taun Sinar Resmi / Video : MediaAksara
“Paiteun ka jaman kiwari. Jaman milenial, milenium. Moal aya harapan tanpa peradaban. Generasi ayeuna ulah poho kana warisan karuhun,”(Pahitnya hidup di zaman milenial ini tak akan berarti tanpa peradaban. Generasi sekarang jangan sampai lupa warisan para leluhur),” tegasnya.
Baca: https://mediaaksara.id/serentaun-sinar-resmi-ke-446-daya-tarik-wisatawan-lirik-tradisi-adat-sunda/
Momen Seren Taun Kasepuhan Sinar Resmi bagian dari Adat Banten Kidul dan diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) diikuti oleh tiga Kasepuhan Adat Banten Kidul, yaitu Gelar Alam dan Cipta Mulya serta dihadiri Wakil Bupati Sukabumi, sebagai bentuk penghormatan sekaligus kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adat. Tradisi ini menjadi penanda kuat tentang keselarasan antara manusia, alam, dan leluhur, sekaligus ruang edukasi budaya yang kian penting di era globalisasi.
Antusiasme masyarakat adat dan pengunjung dari berbagai daerah sangat tinggi. Tak sekadar perayaan, Seren Taun kini menjelma menjadi panggung spiritual, budaya, dan keberlanjutan yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur warisan Nusantara.
Koresponden: Ojan
Redaktur : Rapik Utama







