Tradisi Seni Budaya Sunda ‘Ruwatan’ mengawali acara pelantikan pengurus SMSI Sukabumi Raya di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi / Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID – Tradisi ruwatan atau rajah yang dilakukan sebelum memulai suatu kegiatan masih dilestarikan di Kampung Budaya Pasir Astana, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh. Bagi masyarakat adat setempat, ritual tradisi budaya merupakan warisan leluhur yang dimaknai sebagai ikhtiar memohon keselamatan, kelancaran, dan perlindungan kepada Allah SWT setiap penyelenggaraan kegiatan.
Sesepuh Kampung Budaya Pasir Astana, Uloh Saepuloh, menjelaskan dalam kegiatan di lingkungan kampung budaya selalu diawali dengan prosesi ruwatan atau rajah. Tradisi itu dipandang sebagai bentuk doa agar seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar serta dijauhkan dari berbagai hal yang tidak diinginkan.
“Insyaallah atas izin Allah, diawali ruwatan, harapannya setiap kegiatan berada dalam lindungan Allah SWT, diberi kelancaran, dan dijauhkan dari berbagai energi negatif maupun musibah. Namun, keyakinan kami tetap hanya kepada Allah SWT,” ujar Uloh usai menghadiri pelantikan pengurus SMSI Sukabumi Raya, Sabtu (18/7/2026) di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi.
Baca Juga :
Menurutnya, tradisi serupa juga dikenal di berbagai daerah, salah satunya pada momentum Rebo Wekasan, yang diisi dengan doa bersama atau ritual tolak bala sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar terhindar dari bencana dan malapetaka.
Uloh menegaskan, ruwatan bukanlah jaminan seseorang akan terbebas dari musibah. Tradisi hanya dipandang sebagai media ikhtiar sekaligus bentuk pelestarian budaya Sunda yang diwariskan oleh para leluhur.

“Semua tetap atas kehendak Allah SWT. Ruwatan hanyalah sarana ikhtiar, sedangkan keselamatan dan perlindungan sepenuhnya berasal dari Allah,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan tradisi tersebut merupakan amanah yang diwariskan leluhurnya yang berasal dari kawasan Gunung Gede. Amanah itu terus dijaga dan dilestarikan hingga kini sebagai bagian dari identitas budaya Kampung Budaya Pasir Astana.
- Baca Juga : https://mediaaksara.id/masjid-sejuta-pemuda-dibangun-dakwahthon-season-2-hadirkan-festival-palestina/
“Sejak dahulu para leluhur kami mewariskan tradisi ini. Hingga sekarang kami tetap menjalankannya setiap kali ada kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya,” tuturnya.
Meski demikian, Uloh menegaskan tidak ada unsur paksaan selama pelaksanaan ruwatan. Menurutnya, setiap orang bebas menentukan sikap sesuai keyakinan masing-masing.
“Siapa pun yang mencintai budaya leluhur dipersilakan ikut melestarikannya. Yang terpenting, keimanan dan keyakinan tetap hanya kepada Allah SWT. Ruwatan hanyalah bagian dari tradisi budaya yang kami jaga hingga sekarang,” pungkasnya.
Reporter: Ronald Alexsander
Redaktur: Rapik Utama







