Kisah pilu Ani (57), ibu sakit stroke di Sukabumi yang berbulan-bulan tak makan nasi demi bertahan hidup ngontrak dan menjaga warung kopi kecilnya tetap berjalan./ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Kisah pilu dialami Ani (57), seorang ibu paruh baya yang kini bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan di Kampung Pasirangin, Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Demi mempertahankan warung kopi kecil yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan, Ani mengaku sudah berbulan-bulan tidak makan nasi karena tak sanggup membeli beras.
Ani ber-KTP Kampung Cibandung, RT 14 RW 02, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, saat ini menderita penyakit stroke dan asam urat akut. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan bergerak. Bahkan, luka parah akibat gesekan saat berjalan dengan cara ngesot menyebabkan sebagian daging dan kulit di bagian bokongnya habis.
“Ini sakit sebelah, dagingnya sudah hilang sebelah. Mau jalan susah, paling pegangan. Kalau ada pinjaman, saya ingin berobat dan buat modal warung kopi,” ujar Ani kepada awak media, Kamis (19/2/2026).
Untuk tetap bisa bertahan hidup, Ani mengandalkan belas kasih orang-orang yang sesekali memberinya uang. Namun penghasilan itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ia mengaku sudah sekitar tiga bulan tidak mengonsumsi nasi dan hanya makan daun singkong atau daun pepaya rebus, itupun sekali sehari.
“Kadang tidak makan sama sekali. Kalau lapar, ambil daun singkong direbus. Sekarang juga tidak punya air. Beli dua galon sepuluh ribu, diantar ojek, ongkos ojeknya belum bisa dibayar,” lirihnya.
- Baca Juga : https://mediaaksara.id/estafet-khidmat-umat-berlanjut-dmi-kabupaten-sukabumi-kukuhkan-perubahan-kepengurusan-baru/
Warung kopi yang menjadi tumpuan hidup Ani berada di sebuah rumah kontrakan dengan biaya Rp250 ribu per bulan. Saat ini, kontrakan tersebut menunggak selama dua bulan. Mirisnya, rumah kontrakan itu juga tidak memiliki akses air bersih.
“Sering ditagih yang punya kontrakan. Saya cuma bisa nangis, mau ke mana lagi. Mau pindah ke rumah kakak juga belum tentu boleh oleh suaminya. Kakak saya juga sudah tua dan sakit-sakitan,” ungkapnya.
Lebih memilukan lagi, Ani mengaku telah lama ditelantarkan oleh kedua anaknya. Ia dituding meninggalkan mereka sejak kecil. Ani pun menceritakan masa lalunya yang penuh kekerasan dalam rumah tangga, yang memaksanya melarikan diri ke Jakarta demi menyelamatkan diri.
- Baca Juga : https://mediaaksara.id/domba-raib-saat-warga-terlelap-peternak-di-kabandungan-sukabumi-dilanda-cemas/
“Saya kabur karena sering dipukul suami. Anak saya tinggal waktu umur lima tahun. Sekarang mereka sudah dewasa, tapi tidak mau mengurus saya,” katanya.
Sejak 2018, kondisi kesehatannya terus menurun hingga tak lagi mampu bekerja secara normal. Ia hanya berharap ada pihak yang tergerak membantu biaya pengobatan, melunasi tunggakan kontrakan, serta memberikan modal kecil untuk mempertahankan warung kopinya.
“Kalau bisa ada bantuan sekitar Rp500 ribu untuk bayar kontrakan, modal warung, dan berobat. Saya cuma ingin bisa bertahan hidup,” harap Ani.
Sumber: Iqbal Salim
Redaktur: Rapik Utama







