Home / Kabar Daerah

Sabtu, 18 April 2026 - 11:47 WIB

Lutung Jawa Bertahan di Desa Penyangga TNGHS, Indikator Kesehatan Hutan Jawa Barat

Populasi lutung jawa masih tampak di desa penyangga TNGHS wilayah Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa 

MEDIAAKSARA.ID — Populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus) masih bertahan di lanskap desa penyangga sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Keberadaan primata endemik ini menjadi indikator penting bahwa ekosistem hutan di kawasan tersebut masih relatif terjaga.

Di tajuk pepohonan hutan yang masih hijau, kelompok lutung jawa terlihat aktif berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Satwa ini kerap dijumpai di kawasan hutan serta koridor alami yang menghubungkan blok-blok habitat, termasuk di desa penyangga seperti Cipeuteuy, Mekarjaya, Cihamerang, Cianaga, dan Pulosari di Kabupaten Sukabumi.

Sejumlah penelitian koridor ekologis Halimun Salak mencatat lutung jawa memiliki sebaran cukup luas di kawasan ini. Pengamatan lapangan menunjukkan kelompok lutung masih muncul di area koridor yang berdekatan dengan permukiman warga, menandakan konektivitas antara hutan dan lanskap desa masih terjaga.

Warga setempat juga mengonfirmasi keberadaan satwa tersebut. Kosim (51), warga Desa Cipeuteuy, mengatakan lutung jawa masih sering terlihat di koridor penghubung Gunung Salak dan Gunung Halimun.

“Biasanya muncul pagi dan sore hari. Mereka hidup berkelompok dan sejauh ini tidak mengganggu kebun atau permukiman warga,” ujarnya.

Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id

Secara ekologis, lutung jawa berperan penting dalam menjaga keseimbangan hutan. Sebagai pemakan daun, buah, dan bunga, satwa ini membantu penyebaran biji serta regenerasi vegetasi hutan, sehingga mendukung keberlanjutan ekosistem hutan tropis di Pulau Jawa.

Namun, keberadaan lutung jawa menghadapi ancaman serius. Fragmentasi habitat akibat pembukaan lahan, ekspansi pertanian, dan aktivitas manusia berpotensi memutus jalur pergerakan satwa. Kondisi ini dapat menyebabkan isolasi populasi dan menurunkan peluang bertahan hidup.

Karena itu, desa penyangga di sekitar TNGHS memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian ekosistem. Melalui program kemitraan konservasi dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, warga didorong menjaga tutupan pohon, melakukan reboisasi, serta menerapkan praktik ramah lingkungan.

Keberadaan lutung jawa menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dan hutan tidak dapat dipisahkan. Hutan yang terjaga bukan hanya menjadi habitat satwa liar, tetapi juga sumber air, udara bersih, dan penopang kehidupan masyarakat sekitar.

 

Reporter: Asep M’rhe

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Danrem 061/Surya Kencana Bersama Dandim 0622 Sukabumi Tinjau Kesiapan Yon TP 331 Sanca Manggala 

Kabar Daerah

Forkopimcam Jampangkulon Ajak Warga Semarakkan PORSADIN 2026 dan HUT ke-81 RI dengan Pasang Bendera Merah Putih

Kabar Daerah

Polemik Wakaf ASN Kota Sukabumi Berakhir? Anggota DPRD PKS Sebut Tak Ada Lagi Pungutan yang Dikondisikan

Kabar Daerah

Forkopimda Kota Sukabumi Absen di HUT Dadali Pati, Paguyuban Pencak Silat Kecewa hingga Ancam Somasi

Kabar Daerah

Ujian Kenaikan Tingkat KODRAT Sukabumi Bertepatan HUT Tarung Derajat ke-54, Siapkan Atlet Menuju Porda Jabar

Kabar Daerah

Mahasiswa Adu Inovasi AI di Sukabumi, Build with Gemma Hackathon 2026 Dorong Kolaborasi Google dan Kampus

Kabar Daerah

Pilkades PAW Cikujang: Ade Irma Menang, DPMD Sukabumi: Saatnya Bersatu Bangun Desa Lebih Transparan

Kabar Daerah

Viral ke KDM, Sungai Diduga Tercemar Limbah Batu Hijau, DLH Jabar Uji Kualitas Air