Pemerintah Kecamatan Cikembar gelar rakor pembinaan dihadiri UPTD PSDA Cisadea-Cibareno Provinsi Jawa Barat, DLH Kabupaten Sukabumi, tiga kepala desa, serta puluhan pelaku usaha dan pengrajin batu hijau di aula kantor Desa Bojong / Foto: MediaAksara
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID – Paguyuban Batu Hijau Cikembar menyatakan komitmen untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan menyusul sorotan masyarakat terkait kondisi air sungai yang sempat keruh. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membangun sumur bor bagi warga yang dekat aliran sungai karamat, di kampung bungur pandak, Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Komitmen disampaikan Ketua Paguyuban Batu Hijau Cikembar, Oni, usai mengikuti rapat pembinaan yang diinisiasi Pemerintah Kecamatan Cikembar. Kegiatan dihadiri perwakilan UPTD PSDA Cisadea-Cibareno Provinsi Jawa Barat, DLH Kabupaten Sukabumi, tiga kepala desa, serta puluhan pelaku usaha dan pengrajin batu hijau di Aula Kantor Desa Bojong, Jumat (24/7/2026).
Menurut Oni, pembangunan sumur bor merupakan bentuk tanggung jawab para pelaku usaha terhadap masyarakat yang terdampak kondisi air sungai.
“Alhamdulillah dari pihak pengusaha sudah ada tanggapan. Ada penanganan yang dilakukan, seperti memperbaiki kolam-kolam penampungan dan ke depan juga akan dibuatkan sumur bor agar masyarakat tetap memiliki sumber air bersih ketika air sungai keruh,” ujarnya.
Baca Juga :
Ia menjelaskan, pembangunan tahap pertama akan difokuskan di Kampung Kramat yang sebelumnya menjadi perhatian akibat kualitas air sungai.
“Untuk tahap pertama dibangun satu titik dulu di kampung bungur pandak dekat Sungai Kramat. Insyaallah dalam waktu dekat, bulan-bulan ini juga, pembangunan sudah mulai dilaksanakan,” katanya.

Keberadaan sumur bor diharapkan menjadi sumber air alternatif bagi masyarakat apabila kualitas air sungai kembali menurun.
Terkait dugaan pencemaran sungai, Oni mengakui terdapat indikasi limbah yang masuk ke aliran sungai. Namun, ia belum dapat memastikan pihak atau perusahaan yang menjadi sumbernya.
“Kalau ditanya perusahaan mana, saya tidak bisa memastikan. Yang jelas memang ada indikasi limbah. Kemungkinan berasal dari aktivitas usaha yang berada di bagian hulu sehingga dampaknya terasa di wilayah hilir,” jelasnya.
Ia menilai persoalan tersebut harus diselesaikan secara bersama-sama. Menurutnya, setelah isu tersebut menjadi perhatian publik, sejumlah pelaku usaha mulai melakukan pembenahan fasilitas pengolahan limbah, termasuk memperbaiki kolam penampungan agar kejadian serupa tidak terulang.
Oni juga menyatakan dukungannya terhadap arahan pemerintah agar seluruh pelaku usaha menjalankan aktivitas sesuai ketentuan serta meningkatkan pengelolaan limbah demi menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah dampak terhadap masyarakat.
Sementara itu, usai kegiatan berlangsung, perwakilan UPTD PSDA Cisadea-Cibareno Provinsi Jawa Barat dan DLH Kabupaten Sukabumi tidak memberikan keterangan kepada awak media. Tidak adanya sesi wawancara membuat informasi mengenai hasil pembinaan dan tindak lanjut dari instansi terkait belum dapat diperoleh secara langsung, karena para pejabat tersebut terkesan tidak profesional tidak menyediakan waktu sesi wawancara hasil kinerja bersama awak media setelah acara selesai.
Reporter : De
Redaktur: Rapik Utama







