Helvy Agustini (20) Asal Sukabumi, Mahasiswi Pendidikan Seni Musik Semester IV UPI Bandung
MEDIAAKSARA.ID – Helvy Agustini (20), Mahasiswi Pendidikan Seni Musik Semester IV UPI Bandung, tengah menyelesaikan tugasnya dengan membuat makalah tentang kritik musik. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa kritik musik telah ada sejak tahun 500 SM. Kritik pertama kali dilakukan oleh dua filsuf Yunani, Xenophones dan Heraclitus, terhadap seorang pujangga besar bernama Homerus. Kala itu, mereka mengkritik Homerus karena sering membicarakan hal yang dianggap tidak pantas mengenai dewa dan dewi dalam nyanyiannya.
Helvy warga Nagrak Kabupaten Sukabumi, Menjabarkan, kritik musik berkembang menjadi alat untuk memperbaiki kualitas karya musik sekaligus sebagai bentuk apresiasi terhadapnya.
Menurut Ketut Wisnawa Pengertian Kritik Musik dalam buku Seni Musik Tradisi Nusantara (2020), kritik musik berasal dari kata ‘kritik’ yang berakar dari bahasa Yunani krinein, yang berarti memisahkan atau merinci. Dengan demikian, kritik musik merupakan upaya analisis dan evaluasi terhadap sebuah karya musik untuk meningkatkan pemahaman, apresiasi, serta kualitas musik itu sendiri.
Baca : https://mediaaksara.id/bola-leungeun-seuneu-dan-lisung-ngamuk-warisan-budaya-sunda-yang-mendunia/
Kritik musik harus dilakukan secara mendalam dengan mempertimbangkan pesan dan unsur-unsurnya tanpa menjatuhkan pihak tertentu. Selain itu, kritik harus bersifat objektif dan profesional, didasarkan pada pemahaman musik yang mendalam.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), sejarah kritik musik terbagi menjadi empat periode utama:
1. Kritik Musik Awal (500 SM)
Dilakukan oleh Xenophones dan Heraclitus terhadap Homerus.
2. Kritik Musik Renaissance (1492)
Dipelopori oleh Polizianus yang memperkenalkan istilah criticus dan grammaticus. Kritik musik mulai berkembang, meskipun beberapa penyair merasa kreativitas mereka dibatasi.
3. Kritik Musik di Inggris (1605)
Francis Bacon melalui bukunya Advancement of Learning dianggap sebagai pencetus kritik sastra musik di Inggris, meskipun istilah “kritik” belum digunakan saat itu.
4. Kritik Musik di Indonesia (Abad ke-20)
Kritik musik bukanlah tradisi asli masyarakat Indonesia. Namun, setelah mendapat pengaruh sistem pendidikan Eropa, kritik musik mulai berkembang dalam lingkungan seni dan akademik di Indonesia.
Baca : https://mediaaksara.id/sancang-domba-garut-legendaris-harga-fantastis/
Kritik musik memiliki empat fungsi utama, diantaranya, Memperkenalkan karya musik serta memperluas wawasan masyarakat, Menghubungkan pencipta musik, penyaji, dan pendengar, Lalu Memberikan evaluasi kepada pencipta dan penyaji musik.
Berdasarkan prosedur dan landasan kerjanya, kritik musik dibagi menjadi empat jenis:
1. Kritik Jurnalistik berisi pemberitaan mengenai musik untuk menginformasikan publik.
2. Kritik Pedagogik dilakukan oleh pengajar kesenian untuk mengembangkan bakat peserta didik.
3. Kritik Ilmiah dilakukan oleh akademisi dengan pendekatan penelitian terhadap karya musik.
4. Kritik Populer dilakukan secara terus-menerus, baik secara langsung maupun tidak, tanpa menuntut keahlian kritis khusus.
Kritik musik dapat disampaikan secara lisan atau tulisan. Jika dalam bentuk tulisan, terdapat lima tahapan utama yang harus diperhatikan:
1. Pendahuluan Berisi identitas musik yang dikritisi, seperti penulis, judul, dan penyanyi.
2. Deskripsi Menguraikan fakta-fakta terkait musik yang dikritisi.
3. Analisis Meninjau unsur-unsur musik seperti nada, melodi, ritme, harmoni, dan dinamika.
4. Interpretasi Mengulas pencapaian artistik dan membandingkan dengan karya sejenis.
5. Evaluasi Menyampaikan pendapat kritikus berdasarkan deskripsi dan analisis yang telah dilakukan.
Baca : https://mediaaksara.id/wheels-on-the-rail-musik-jalanan-yang-menghidupkan-malam-kota-sukabumi/
Evaluasi menjadi tahap paling penting dalam kritik musik karena menentukan kualitas serta keberhasilan sebuah karya. Kritik yang baik akan membantu perkembangan musik ke arah yang lebih baik tanpa menjatuhkan pihak tertentu.
Maka Kesimpulannya bahwa kritik musik bukan sekadar memberikan penilaian, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan apresiasi dan kualitas karya musik. Dengan memahami sejarah, fungsi, jenis, dan cara penyampaian kritik musik, kita dapat lebih menghargai dunia musik serta peran kritikus dalam perkembangannya.
Reporter : Anggita ZA. Rahman







