Kelompok Tani Mekarsari bersama Kades Gedepangrango dan Tim RCL dengan produk Kopi Mekarsari Kadudampit, Sukabumi / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Di kaki Gunung Gede Pangrango, Kampung Cinumpang Pojok, Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Sebuah cita rasa lokal mulai mengharum hingga luar daerah: Kopi Mekarsari. Diproduksi oleh Kelompok Tani Mekarsari, kopi ini kini mampu menjual rata-rata 50 kilogram per bulan dengan pendapatan sekitar Rp8 juta, menyuplai cafe, gerai Dekranasda, serta platform daring.
Harga kopi kemasan 100 gram dijual Rp30.000, sedangkan biji mentah mencapai Rp250.000 per kilogram. Selain merambah pasar online, Poktan Mekarsari juga tergabung dalam Asosiasi Petani Kopi Indonesia. Cita rasa khas serta pengolahan pascapanen yang dilakukan secara teliti membuat kopi ini semakin diminati.
Kisah inspiratif Kopi Mekarsari bermula tahun 2006 oleh pasangan suami istri, Enung Nurhayati dan Suparno. Berawal dari keinginan mencoba hal baru, mereka menanam kopi di lahan pegunungan yang kala itu belum dikenal sebagai sentra kopi. Dua tahun kemudian, kopi pertama mereka dipanen. Namun, tantangan justru muncul ketika hasil panen sulit dipasarkan.
Baca: https://mediaaksara.id/jembatan-rp27-m-di-cidahu-viral-warga-soroti-kualitas-dan-keselamatan/
“Awal panen tahun 2009, kami bingung mau dijual ke mana. Sebagian kami bagikan ke tetangga agar mencoba rasanya,” ungkap Enung saat ditemui tim RCL.
Kondisi tersebut tak membuat mereka menyerah. Perlahan namun pasti, lewat ketekunan dan promosi dari mulut ke mulut, nama Kopi Mekarsari mulai dikenal. Titik balik terjadi di tahun 2017 saat harga kopi mulai stabil dan permintaan meningkat.
Enung menjelaskan, penanaman dilakukan saat musim hujan dengan memilih bibit unggul di lahan subur lereng gunung. Proses pascapanen dilakukan secara alami: biji dijemur, disortir, disangrai sesuai permintaan, lalu dikemas dalam kemasan 100 gram atau 250 gram.
Di akhir pertemuan, Enung menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih aktif mempromosikan kopi lokal.
” Kami berharap pemerintah daerah hadir dan serius mendukung promosi kopi seperti Mekarsari. Potensinya besar, tinggal bagaimana memperkenalkannya agar bisa dikenal luas, bahkan hingga mancanegara,” pungkasnya pada Rabu (16/7/2025).
Kopi Mekarsari bukan sekadar hasil bumi, tetapi simbol semangat petani lokal dalam menjaga warisan alam dan budaya Sukabumi dari kaki Gunung Gede Pangrango.
Sumber: RCL Sukabumi
Redaktur: Rapik Utama







