Lapak Pasar Senggol Sukabumi Masih Sepi di Hari ke-9 Puasa, Baru Terisi 40 Persen: Cek Tarif & Kendalanya

Memasuki hari ke-9 Ramadhan 1447 H, Lapak Pasar Raya Ramadhan Kota Sukabumi baru terisi 40 persen. Pengelola soroti SK yang terbit mepet dan kendala teknis di lapangan. / Foto: Mediaaksara 

MEDIAAKSARA.ID – Penyelenggaraan Pasar Raya Ramadhan atau lebih dikenal Pasar Senggol (Marema) di Jalan Kapten Harun Kabir Kota Sukabumi tahun ini dinilai belum berjalan optimal. Hingga memasuki hari ke-9 bulan suci Ramadhan 1447 H, tingkat keterisian lapak baru mencapai 40 persen dari total 640 kios yang disediakan.

Pengelola Pasar Raya Ramadhan dari CV Cahaya Gumilang Perkasa, Erwin Budiman, mengungkapkan capaian tersebut masih jauh dari target awal. Salah satu penyebab utama adalah terbitnya Surat Keputusan (SK) yang dinilai terlalu mepet dengan waktu pelaksanaan.

“Idealnya SK turun minimal dua minggu, bahkan satu bulan sebelum hari H. Dengan begitu, persiapan teknis dan sosialisasi ke pedagang bisa lebih maksimal,” ujar Erwin saat ditemui di kantornya, Jumat (27/2/2026).

Ia menjelaskan, panitia telah menanggung berbagai kebutuhan utama seperti tenda, listrik, dan keamanan. Para pedagang hanya diminta fokus berjualan serta menyiapkan perlengkapan lapak masing-masing, seperti kebutuhan kayu dan display dagangan.

Terkait tarif, harga lapak dibagi berdasarkan klaster lokasi. Lapak di posisi strategis bagian depan dipatok Rp2.500.000, sementara lapak di area bawah sekitar Rp1.500.000, menyesuaikan kondisi dan letak.

Pengelola Pasar Raya Ramadhan dari CV Cahaya Gumilang Perkasa, Erwin Budiman diwawancara awak media, Jumat (27/2/2026) / Foto: Mediaaksara
Pengelola Pasar Raya Ramadhan dari CV Cahaya Gumilang Perkasa, Erwin Budiman diwawancara awak media, Jumat (27/2/2026) / Foto: Mediaaksara

Khusus area Pasar Marema, sistem tarif diberlakukan secara dinamis atau berlaku surut. Artinya, semakin mendekati hari pelaksanaan atau jika cuaca kurang mendukung, harga lapak bisa mengalami penyesuaian.

“Penentuan tarif memang menjadi kewenangan panitia setelah SK terbit. Namun perhitungannya tetap mengacu pada kebutuhan dasar seperti PAD, tenda, listrik, keamanan, hingga gaji petugas. Dalam bisnis, ini seperti harga pokok penjualan (HPP),” jelasnya.

Meski demikian, pihak pengelola tetap membuka ruang negosiasi, khususnya bagi pedagang yang menyewa banyak lapak atau melakukan pembayaran tunai, guna menjaga minat pelaku usaha.

Dari total 640 lapak, sebanyak 40 unit dialokasikan untuk area gang, yang terbagi ke dalam empat tray. Namun hingga kini, tingkat keterisian belum mencapai setengah kapasitas.

Erwin juga menyoroti kendala teknis, seperti pengecatan dan pendirian tenda yang memakan waktu hingga satu minggu. Ia meyakini, jika SK diterbitkan lebih awal, proses pengisian lapak bisa berjalan lebih cepat.

Meski menghadapi sejumlah tantangan, pihaknya tetap mengapresiasi program Pemerintah Kota Sukabumi, khususnya langkah wali kota dalam mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Pasar Raya Ramadhan ini punya efek domino besar. UMKM terakomodir, PAD meningkat, penataan pedagang lebih rapi, bahkan ada pedagang dari luar daerah yang bisa disebut investor kecil,” pungkasnya.

 

Reporter: Ronald Alexsander

Redaktur: Rapik Utama