Home / Sosial Ekonomi

Minggu, 14 Juni 2026 - 19:19 WIB

Ironi di Balik Bantuan Pangan untuk 1.867 Warga Sukabumi, Perangkat Desa Mengaku Tak Pernah Tersentuh Bantuan

Sebanyak 1.867 KPM menerima bantuan pangan dari Bulog di aula kantor Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa 

MEDIAAKSARA.ID – Sebanyak 1.867 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi menerima bantuan pangan dari pemerintah melalui Perum Bulog, Minggu (14/6/2026).

Bantuan disalurkan berupa beras dan minyak goreng dinilai sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok di tengah kenaikan harga pangan.

Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Nendi, mengatakan penyaluran bantuan berjalan lancar dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng sangat membantu kebutuhan warga kami di tengah lonjakan harga pangan,” ujar Nendi mewakili Kepala Desa Girijaya Ujang Sihab.


  • Baca Juga: https://mediaaksara.id/kapal-pengangkut-batu-bara-karam-di-perairan-selatan-sukabumi-16-abk-dan-nahkoda-berhasil-diselamatkan/

Setiap penerima memperoleh dua karung beras dengan total 20 kilogram serta empat liter minyak goreng. Menurut Nendi, seluruh perangkat desa turut terlibat proses distribusi sehingga penyaluran berlangsung tertib tanpa antrean panjang maupun penumpukan warga.

“Proses penyaluran berjalan dengan tertib dan lancar. Tidak terjadi penumpukan warga,” katanya.

Di balik lancarnya distribusi bantuan sosial, muncul cerita lain dari sejumlah perangkat desa yang bertugas melayani masyarakat. Mereka mengaku tidak termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial meski merasakan dampak kenaikan biaya hidup.


Salah seorang perangkat desa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan dirinya dan rekan-rekannya hanya berperan sebagai pelaksana penyaluran tanpa pernah menjadi penerima manfaat.

“Kalau mau jujur, kami juga sangat membutuhkan bantuan ini. Tidak semua perangkat desa hidup berkecukupan,” ujarnya.

Menurutnya, penghasilan perangkat desa yang masih berada di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sukabumi membuat kebutuhan rumah tangga semakin sulit dipenuhi, terutama di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok.


Ia menilai sistem penentuan penerima bantuan berdasarkan klasifikasi desil sering kali tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi riil masyarakat. Status sebagai aparatur desa membuat mereka masuk kategori yang dianggap tidak layak menerima bantuan, meski kondisi ekonomi sebagian di antaranya tergolong pas-pasan.

“Rata-rata perangkat desa berada pada desil tinggi sehingga tidak bisa menerima bantuan. Padahal faktanya terkadang berbeda dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan,” ungkapnya.

Meski demikian, para perangkat desa tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan memastikan bantuan pemerintah tersalurkan tepat sasaran kepada warga yang berhak menerimanya.

 

Sumber: @Kak-RT

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Sosial Ekonomi

Pilu Dua Anak Tinggal di Rutilahu Sukabumi, Kakek Sakit: Potret Kemiskinan di Nagrak Akhirnya Ditangani Kemensos

Sosial Ekonomi

PLN dan YBM PLN Sukabumi Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Kadudampit

Sosial Ekonomi

156 Anak dari 30 Kecamatan Ikuti Khitanan Massal HJKS ke-156 di Pendopo Sukabumi ‎

Sosial Ekonomi

Polsek Jampangkulon Rutin Jumat Berbagi, Bagikan Nasi Box ke Warga

Sosial Ekonomi

PLN Sukabumi Kirim Bantuan ke NTT, Trauma Healing Jadi Dukungan bagi Anak Korban Bencana ‎

Sosial Ekonomi

Tagana Dinsos Asesmen Rutilahu Ibu Jijah di Ciambar, Dorong Penanganan dan Bansos bagi Warga Rentan di Sukabumi

Sosial Ekonomi

Bedah Rutilahu DPU Sukabumi di Gegerbitung, Kades Caringin dan Camat Apresiasi Giat Sosial Hari Bakti PU  ‎

Sosial Ekonomi

Bantuan Sosial Bah Jumha Disalurkan PDIP Sukabumi, Warga Soroti Rumah Tak Layak Huni