Banner Majelis Tabarruk Kitab Al-Hikam ke-20 di Pondok Pesantren Azzainiyyah Sukabumi dibuka oleh KH Aang Abdullah Zein menghadirkan hikmah Ramadan tentang kasih sayang, akhlak, dan jalan kehidupan umat, Sabtu (3 Ramadan 1447 H- 21 Februari 2026). / Foto: Dokumen Ponpes Azzainiyyah Sinar Barokah
MEDIAAKSARA.ID – Suasana khidmat dan penuh keberkahan mewarnai Pembukaan Majelis Tabarruk Kitab Al-Hikam ke-20 (MASHTAKA) yang digelar di Pondok Pesantren Azzainiyyah Sinar Barokah, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, pada hari ke-3 Ramadan 1447 Hijriah, Sabtu (21/02/2026).
Majelis dibuka langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Azzainiyyah yang juga menjabat Ketua Umum MUI Jawa Barat, KH. Aang Abdullah Zein. Kegiatan ini menjadi momentum spiritual tahunan yang dinantikan santri dan jamaah sebagai sarana memperdalam makna kehidupan melalui mutiara hikmah Kitab Al-Hikam.
Dikutip dari laman media sosial Pondok Pesantren Azzainiyyah, KH. Aang Abdullah Zein memanjatkan doa bagi seluruh keluarga besar pesantren, umat, santri, serta jamaah agar niat menuntut ilmu senantiasa dilandasi keikhlasan dalam mencari rida Allah SWT. Ia menekankan proses memperbaiki diri harus dibangun dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian, agar manusia mampu menuju kesempurnaan dan keparipurnaan akhlak.
Dalam tausiyahnya, KH. Aang menjelaskan santri sejati adalah mereka yang mampu melaksanakan pengabdian, menempuh perjalanan kehidupan dengan ilmu, serta mempersiapkan diri sebagai al-‘ulama warasatul anbiya, penerus risalah kenabian. Seorang santri, menurutnya, harus mampu menguasai tiga dimensi utama kehidupan: keulamaan, kepemimpinan (pemerintahan), dan kemanusiaan. Jika ketiganya dipahami dan diamalkan, insya Allah akan ditemukan jalan keberkahan kehidupan.
Ia juga mengingatkan pentingnya bersyukur atas keberadaan para guru hikmah. Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari serta pengajaran yang diwariskan oleh almarhum KH. Zezen Zainal Abidin BA menjadi lentera dalam perjalanan spiritual umat.
- Klik Video : https://www.youtube.com/live/ouxjBWvCiCo?si=ugleChnegPj6fTj2https://www.facebook.com/share/v/1AiccWaekx/
“Kitab ini menjadi rujukan utama dalam pengisian jiwa, penyucian hati (tazkiyatun nafs), serta panduan bagi para penempuh jalan spiritual (salik) menuju Allah,” tutur KH. Aang, mengajak jamaah memahami makna pergantian peran dan kerendahan hati. Ia menegaskan bahwa hidup tidak boleh dipenuhi terlalu banyak alasan. Setiap keinginan pasti memiliki jalan, sementara ketiadaan keinginan sering kali melahirkan seribu alasan.
Kajian Kitab Al-Hikam, lanjutnya, bukan sekadar untuk dipahami secara tekstual, tetapi harus direalisasikan dalam pengamalan nyata dan sungguh-sungguh. Inilah kunci meraih kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari iman, ibadah, dan kesehatan; pendidikan dan ekonomi; hingga akhlak, budaya, dan politik.
- Baca Juga : https://mediaaksara.id/rela-tak-makan-nasi-ibu-sakit-stroke-di-sukabumi-bertahan-hidup-dari-daun-singkong/
“Kita ini muslim, tapi belum tentu Islami. Paradigma Islam harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,”ujarnya mengingatkan.
Pada kesempatan itu, KH. Aang juga mengisahkan hikmah dari Sayyidina Ali RA dalam Perang Badar. Ketika wajahnya tergores pedang musuh, luka tersebut muncul saat hatinya diliputi amarah. Dari kisah ini, Dr. KH. Aang Abdullah Zein.,M.Pd.I
merefleksikan dirinya yang kerap merasa masih sebagai santri daripada ajengan atau alim ulama, karena amanah keulamaan menuntut hati yang luas, lapang, dan penuh kebijaksanaan.
Majelis Tabarruk Kitab Al-Hikam diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran ruhani, memperkuat akhlak, serta meneguhkan nilai kasih sayang sebagai fondasi kehidupan umat, khususnya di bulan suci Ramadan.
Sumber : Kanal Media Sosial Ponpes Azzainiyyah
Redaktur: Rapik Utama







