Rutilahu Janda Ibu Eha menumpang dilahan fasilitas umum tanah pemakaman/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Ibu Eha, seorang janda tua warga Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, masih harus bergelut dengan kenyataan pahit. Ia tinggal bersama keluarganya di rumah nyaris roboh yang berdiri menumpang di atas lahan fasilitas umum berupa tanah pemakaman.
Opik Tetangga, salah satu warga yang peduli, menceritakan kondisi kehidupan Ibu Eha yang sangat memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengumpulkan botol bekas, dengan penghasilan harian yang hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000.
“Ibu Eha punya empat anak. Karena himpitan ekonomi, tiga dari mereka harus putus sekolah untuk membantu mencari nafkah. Satu anak lainnya sudah menikah,” ujar Opik pada Selasa (29/04/2025).
Baca: https://mediaaksara.id/rumah-impian-terwujud-enjang-kini-miliki-hunian-layak-berkat-baznas/
Ia berharap, pemerintah atau donatur dan pihak terkait bisa segera melihat langsung kondisi rumah tersebut dan memberikan solusi, khususnya menyediakan tempat tinggal yang lebih layak.
“Rumah itu sudah rusak sejak lama, belum pernah diperbaiki. Kami hanya ingin beliau dan anak-anaknya bisa hidup lebih manusiawi,” tambahnya.
Selain soal tempat tinggal, Opik juga berharap ada dukungan bagi anak-anak Ibu Eha yang putus sekolah agar mereka mendapatkan pelatihan atau pekerjaan, demi masa depan yang lebih baik.
Baca: https://mediaaksara.id/menanti-janji-yang-tak-kunjung-tiba-harapan-mamun-akan-rumah-layak-huni/
Sementara itu, Kepala Desa Sindangresmi, Yan Mardiyana, saat dihubungi melalui telepon pada Rabu (30/4/2025), menjelaskan bahwa sejak 2022 desa telah mengajukan usulan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu) sebanyak 189 unit. Beberapa telah terealisasi melalui bantuan Baznas Disperkim dan Dinas Sosial, namun masih tersisa 72 unit, termasuk rumah Ibu Eha.
” Masalahnya, rumah Ma Eha berdiri di atas tanah kuburan. Dulu laporan Pa RT, pernah ada warga yang bersedia menghibahkan tanah agar rumah beliau bisa dipindah dan dibangun, tapi Ma Eha menolak pindah,” jelas Yan.
Kades menambahkan, pemerintah desa sebenarnya sudah memberikan sejumlah bantuan sosial kepada Ibu Eha, seperti BPNT sampai sekarang, BLT Sembako, BLT BBM pada 2022, dan BLT El Niño pada akhir 2023.
Baca: https://mediaaksara.id/bahagia-ibu-maryam-kini-tinggal-di-rumah-layak-huni-berkat-program-rutilahu/
” Data usulan Rutilahu Ma Eha sudah masuk dalam daftar, hanya saja anggaran yang tersedia sangat terbatas. Tahun ini saja, pembangunan Rutilahu di desa kami hanya bisa satu rumah. Idealnya, kami bisa membangun lima sampai sepuluh unit per tahun agar target tercapai,” ungkapnya.
Dari kisah Ibu Eha mengingatkan kita bahwa di balik keterbatasan, selalu ada ruang untuk kepedulian dan gotong royong. Semoga langkah kecil dari banyak pihak bisa menjadi jalan bagi kehidupan yang lebih layak, tidak hanya bagi Ibu Eha, tapi juga bagi keluarga lainnya yang senasib.
Reporter : J-lo
Redaktur: Rapik Utama







