Press Conference di UMMI : Broken Versus Festival siap mengguncang Sukabumi pada 13 September 2026. Radja dan Juicy Luicy dipertemukan dalam festival musik lintas generasi bertema “Dua Era, Satu Luka, Sejuta Cinta” / Foto: MediaAksara
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID — Ada luka yang sembuh karena waktu. Ada pula yang justru kembali terasa ketika sebuah lagu diputar. Suasana itulah yang hendak dibawa Broken Versus Festival, gelaran music experience yang akan berlangsung di Stadion Suryakencana, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Minggu, 13 September 2026.
Antusiasme terhadap festival mulai terasa saat press conference digelar di area Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI). Ribuan mahasiswa menyambut kehadiran personel Radja, band yang dinakhodai vokalis Ian Kasela.
Festival ini mengusung tema “Dua Era, Satu Luka, Sejuta Cinta”. Bukan sekadar pertunjukan musik, konsep konser dirancang sebagai perjalanan emosional yang mempertemukan nostalgia generasi terdahulu dengan ekspresi dan keresahan generasi masa kini.
Perwakilan Istana Production, Aris Setiawan, mengatakan Broken Versus Festival lahir dari gagasan musik memiliki kemampuan menghidupkan kembali memori yang pernah terkubur.
Baca Juga :
Tak Sekadar Seremoni! Mojang-Jajaka Sukabumi Ungkap Lilin Kecil di HJKS ke-156
”Musik bukan hanya tentang apa yang didengar, tetapi tentang apa yang pernah dirasakan,” ujar Aris.

Menurutnya, festival akan dikemas dengan pertunjukan musik yang sinematik, megah, dan emosional. Penonton diajak menyusuri cerita tentang cinta yang gagal, kehilangan, kerinduan, hingga kenangan yang belum benar-benar selesai.
Salah satu daya tarik utama Broken Versus Festival adalah pertemuan musisi lintas generasi.

Radja hadir membawa nostalgia melalui lagu-lagu yang telah menemani perjalanan emosional pendengarnya. Sementara Juicy Luicy dan sejumlah band kekinian merepresentasikan suara generasi muda dengan cerita seputar patah hati, kerinduan, hubungan yang kandas, dan dinamika percintaan masa kini. Namun, “versus” dalam nama festival bukan berarti pertarungan.
Baca Juga :
Justru sebaliknya. Dua era tersebut dipertemukan untuk menunjukkan zaman boleh berubah, tetapi perasaan manusia memiliki bahasa yang hampir selalu sama.
Cara mencintai mungkin berbeda. Cara mengungkapkan patah hati terus berkembang. Tetapi kehilangan tetap meninggalkan ruang yang sama di dalam hati.
”Broken Versus Festival menjadi ruang di mana memori masa lalu dan kenyataan hari ini saling bertabrakan, menyatu, lalu membentuk sebuah perjalanan emosional yang utuh,” kata Aris selepas Press Conference.
Penyelenggara juga menyiapkan tata panggung dan narasi pertunjukan yang dikonsep khusus untuk memperkuat pengalaman penonton.
Baca Juga :
Kunker Komisi II DPRD Tangsel ke Sukabumi Soroti Strategi Kelola Pendidikan di Wilayah 47 Kecamatan
Dengan konsep ini, penonton tidak hanya datang mendengarkan musik, tetapi juga diajak masuk ke dalam cerita yang dibangun sepanjang festival.
Sebab, di balik sebuah lagu selalu ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar melodi: seseorang, sebuah tempat, sebuah masa, cinta yang pernah tumbuh, atau luka yang pernah disembunyikan.
Broken Versus Festival ingin menjadikan musik sebagai ruang pertemuan lintas generasi. Ruang ketika kenangan masa lalu bertemu dengan realitas generasi sekarang.
Broken Versus Festival — dua era bertemu, satu luka terasa, sejuta cinta dikenang.
Reporter: Ronald Alexsander
Redaktur: Rapik Utama






