Kepala Desa Semplak Nura Widarnangti diwawancara awak media atas potensi sentra anyaman bambu warga kampung batu sirap / Foto: Rapik Utama
MEDIAAKSARA.ID – Bazar Ramadan 1446 H/2025 di Kecamatan Sukalarang berlangsung meriah dengan kehadiran Bupati Sukabumi, Asep Japar, didampingi Wakil Bupati Andreas. Acara ini menjadi ajang promosi bagi puluhan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memamerkan produk unggulan daerah.
Menurut panitia, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin), bazar ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu (19/3/2025) hingga Sabtu (22/3/2025), berlokasi di halaman Masjid Aljabar. Salah satu produk yang menarik perhatian Bupati adalah anyaman bambu khas dari Kampung Batu Sirap, Desa Semplak.
Terpantau Bupati Asep Japar bahkan menyempatkan diri untuk membeli langsung anyaman bambu dari sentra pengrajin setempat. Keunikan produk ini terletak pada eksklusivitasnya hanya dibuat oleh satu kampung yang masih mempertahankan tradisi turun-temurun.
Kepala Desa Semplak, Nura Widarnangti, mengungkapkan pada mediaaksara.id bahwa selain produk makanan dan minuman, Ia juga menyediakan kerajinan tangan anyaman bambu menjadi salah satu potensi unggulan desanya.
“Alhamdulillah, di Semplak ini ada produk kerajinan khas berupa anyaman bambu. Dalam bazar ini, kami membawa beberapa hasil kerajinan yang bahkan sudah diborong oleh Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati,” ujarnya, Rabu (19/3/2025).
Kampung Batu Sirap dihuni sekitar 40 kepala keluarga dan dikenal sebagai sentra utama pengrajin anyaman bambu. Keunikan kampung ini bukan hanya pada produknya, tetapi juga pada lingkungan dan gaya hidup warganya yang masih mempertahankan ciri khas kampung adat.
“Potensi bambu di sini sangat melimpah. Masyarakat memanfaatkannya untuk membuat berbagai kerajinan seperti kipas (hihid), bakul nasi (boboko), alat penampi beras (nyiru), serta produk lainnya,” jelas Nura pada Mediaaksara.id.
Meski memiliki produk khas, pemasaran anyaman bambu dari Kampung Batu Sirap masih terbatas. Penjualan lokal dilakukan secara langsung atau melalui warung-warung tradisional, sedangkan pesanan luar daerah dikirim melalui jasa pengiriman.
Namun, salah satu tantangan utama adalah belum adanya branding atau hak paten untuk produk ini.
“Masyarakat lebih fokus pada produksi dibandingkan pengemasan dan pemasaran. Ke depan, kami ingin mendorong agar produk ini memiliki nilai jual lebih tinggi dan menjangkau pasar yang lebih luas,” pungkas Nura.
Dengan keunikan dan nilai budaya yang dimiliki, anyaman bambu dari Kampung Batu Sirap berpotensi menjadi ikon kerajinan khas Sukabumi. Tinggal bagaimana strategi pemasaran dan dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan daya saingnya di tingkat nasional maupun internasional.
Reporter : Anggita TA. Rahman
Redaktur : Rapik Utama







