Aktivitas pekerja cafe & resto Crowded yang berada di Jalan Pabuaran, Kelurahan Nyomlong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi / Foto: Istimewa
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID – Keluhan sejumlah warga terkait kegiatan live music di cafe & Resto Crowded yang berada di Jalan Pabuaran, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, mendapat tanggapan dari pihak pengelola.
Keluhan warga berkaitan dengan suara musik saat kegiatan berlangsung yang dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan. Pengelola cafe & resto crowded , Dudun, menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang merasa terganggu dan menyatakan terbuka untuk mencari solusi bersama.
Dudun menjelaskan, kegiatan live music tidak digelar setiap hari. Menurutnya, acara tersebut biasanya dilaksanakan sekitar satu kali dalam sebulan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan usaha.
“Sekali lagi saya mohon maaf. Untuk tanggal 15 Agustus, rencananya memang akan ada acara. Kami biasanya hanya mengadakan acara satu bulan sekali karena kami juga harus mengejar omzet,” ujar Dudun saat ditemui wartawan di cafenya, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga :
Rp240 Miliar Mau Dipinjam Pemkot Sukabumi, DPRD Belum Kasih Lampu Hijau: Ada Apa?
Menurutnya, keberlangsungan kafe juga berkaitan dengan keberlangsungan ekonomi 16 karyawan yang bekerja.
“Kita di sini ada 16 karyawan yang bersama-sama mencari rezeki untuk keluarganya,” katanya.
Dudun juga menyebut kegiatan acara turut memberikan peluang ekonomi bagi sebagian warga sekitar yang terlibat selama pelaksanaan kegiatan.
“Alhamdulillah, ketika ada acara, sebagian warga juga ada yang ikut serta untuk bisa mencari nafkah di sini,” ujarnya.
Meski demikian, ia memahami kekhawatiran masyarakat mengenai suara musik. Pengelola, kata Dudun, tidak ingin mengabaikan kenyamanan warga dan siap membahas solusi agar kegiatan usaha tetap berjalan tanpa menimbulkan gangguan lingkungan.
Baca Juga :
Polda Jabar Dukung Konferprov PWI, Junjung Profesionalisme Wartawan dan Perangi Hoaks
Bahkan, pihaknya sempat mempertimbangkan bentuk kompensasi bagi warga yang merasa terganggu selama acara.
“Kita juga ingin mencari solusi supaya warga, diantaranya kaum ibu tidak terganggu. Saya bahkan sempat berpikir untuk menawarkan voucher hotel agar ibu bisa beristirahat saat acara, atau memberikan uang saku untuk makan di luar ketika kegiatan berlangsung,” katanya.
Dudun menilai, kegiatan event menjadi salah satu penopang operasional cafe. Tanpa kegiatan tersebut, pendapatan usaha disebut belum mampu sepenuhnya menutup biaya operasional, termasuk gaji karyawan.
“Kalau sama sekali tidak ada event, setiap bulan kita terus nombok untuk bisa membayar gaji karyawan,” ungkapnya.
Baca Juga :
Persoalan ini pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang perlu dicarikan jalan tengah, yakni keberlangsungan usaha dan hak warga atas kenyamanan lingkungan.
Karena itu, komunikasi antara pengelola dan masyarakat dinilai penting, terutama untuk membahas waktu pelaksanaan acara, pengendalian tingkat kebisingan, serta mekanisme kegiatan agar tidak menimbulkan keresahan.
Rencana kegiatan cafe pada 15 Agustus 2026 juga menjadi perhatian. Pengelola diharapkan memastikan pelaksanaannya memperhatikan ketentuan yang berlaku sekaligus mempertimbangkan kondisi lingkungan.
Dudun berharap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah sehingga kegiatan usaha tetap berjalan tanpa mengesampingkan kepentingan masyarakat.
“Kami berharap bisa mencari titik temu. Kami juga tidak ingin warga terganggu,” pungkasnya.
Reporter: Ronald Alexsander
Redaktur: Rapik Utama







