Home / Kabar Daerah

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:19 WIB

Diduga Abai Atau Sengaja? Sungai Berubah Keruh, Warga Cikembar Riskan Limbah Batu Hijau Cemari Sumber Air Bersih

Penampakan Sumur Berdekatan Sungai Cibojong, Kp. Bungur Pandak, Desa Bojong, Cikembar, Sukabumi, berubah keruh dan diduga tercemar limbah batu hijau / Foto: MediaAksara

SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID – Warga Kampung Bungurpandak, Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, mengeluhkan perubahan warna air Sungai Cibojong yang mengalir ke Sungai Cikaramat. Air yang selama puluhan tahun menjadi sumber kebutuhan sehari-hari kini berubah keruh pekat dan dinilai tidak lagi layak digunakan, terutama di tengah musim kemarau.

Perubahan kondisi air tidak layak membuat warga resah karena sebagian besar masyarakat masih bergantung pada aliran Sungai Cibojong dan sumur resapan di sekitarnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Warga menduga perubahan warna air berkaitan dengan aktivitas pemotongan batu hijau di wilayah hulu sungai. Limbah hasil pemotongan diduga terbawa aliran air hingga mencemari sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.

Salah seorang warga, Bubun Buhori, mengatakan hampir seluruh warga Kampung Bungurpandak menggunakan air dari Sungai Cibojong yang mengaliri sungai Cikaramat yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun.


Baca Juga :

Resmi Pimpin Polres Sukabumi, AKBP Benny Cahyadi Siap Tingkatkan Pelayanan kepada Masyarakat

“Mayoritas warga kampung kami menggunakan air yang berasal dari aliran Sungai Cibojong atau Cikaramat. Air tersebut sudah digunakan berpuluh-puluh tahun,” ujarnya dihadapan warga lainnya.

Menurut Bubun, kondisi air kini berubah menjadi keruh dan diduga telah bercampur limbah batu hijau sehingga menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

“Warga banyak mengeluhkan perubahan warna air karena diduga sudah bercampur dengan limbah batu hijau,” katanya.


Baca Juga :

Pemkab Sukabumi Dampingi Penanganan Balita Diduga Gizi Buruk di Cikembar, Data Bansos dan Layanan Kesehatan Dipercepat

Meski khawatir, warga mengaku belum memiliki pilihan lain. Keterbatasan sumber air bersih membuat mereka tetap menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kami terpaksa menggunakan air yang ada. Bahkan, setelah mandi sering mengalami gatal atau kulit kering. Untuk dikonsumsi sebagai air minum pun kami khawatir berdampak terhadap kesehatan,” ungkap Bubun.

Ia berharap ada langkah nyata dari seluruh pihak agar persoalan tersebut tidak terulang dan segera diselesaikan tanpa merugikan masyarakat maupun pelaku usaha.


Baca Juga :

Kemendagri Perkuat Pemberdayaan Ormas di Sukabumi, Heri Gunawan Dorong Dukungan Nyata Asta Cita

Bubun menegaskan warga tidak menolak keberadaan perusahaan batu hijau. Namun, menurutnya, aktivitas usaha harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Kami tidak pernah mempermasalahkan adanya perusahaan batu hijau. Yang penting saling pengertian. Jangan sampai membuang limbah ke sungai dan merusak lingkungan,” tegasnya.

Jika musim kemarau terus berlangsung tanpa penanganan, warga khawatir krisis air bersih akan semakin parah karena hingga kini mereka masih bergantung pada Sungai Cibojong dan sumur resapan sebagai sumber air utama.

 

Reporter: De

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Bukan dari Kota, Siswi MTs Jampangkulon Juara 1 OMI Sukabumi dan Siap Berlaga di Tingkat Jabar

Kabar Daerah

Ribuan Penonton Padati Broken Versus Festival di Sukabumi, Nostalgia 25 Tahun Radja Tinggal Menunggu Waktu ‎

Kabar Daerah

Bukan Sekadar Lapak Buku! Poster Demokrasi ‘Prabowo dan Asep Japar’ Hiasi Mastaka UMMI 2026

Kabar Daerah

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau, Tokoh Pers Sukabumi Ajak Ketuk Pintu Langit

Kabar Daerah

Broken Versus Festival di Sukabumi: Saat Radja dan Musik Kekinian Mengobrak-abrik Luka Lama

Kabar Daerah

Knalpot Brong Ditertibkan, YFSBBP Dorong Polsek Jampangkulon Konsisten Jaga Kenyamanan Warga

Kabar Daerah

HUT FKPPI ke-48 dan PEPABRI ke-67 di Sukabumi: Api Perjuangan dan Persatuan Terus Dikobarkan

Kabar Daerah

‎30 Lilin Menyala di Gedung Juang, Doa untuk 5 Wartawan dan 3 Kru Kapal yang Hilang Saat Liputan Erupsi