Kasepuhan dan Masyarakat Kesatuan Adat Banten Kidul bersama unsur pemerintah saat Seren Taun Cipta Mulya, Desa Sinar, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi tetap mempertahankan penggunaan “Iket Sunda” sebagai identitas budaya yang tetap eksis di tengah modernisasi / Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID — Di tengah arus modernisasi, iket Sunda tetap bertahan sebagai penanda identitas budaya masyarakat Tatar Sunda. Kain penutup kepala tradisional ini bukan sekadar pelengkap busana, tetapi sarat makna tentang nilai, etika, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Dalam tradisi Sunda, iket juga dikenal sebagai totopong. Secara filosofis, “iket” berarti ikatan, sedangkan “totopong” merujuk pada simpul kain di kepala sebagai simbol pertemuan dan kebersamaan. Nilai ini mencerminkan keterikatan sosial dan penghormatan, sehingga iket kerap dikenakan dalam berbagai momen penting.
Jejak penggunaan iket telah ada sejak masa Sunda kuno, tercatat dalam naskah seperti Carita Parahyangan. Seiring waktu, bentuknya berkembang tanpa meninggalkan esensi sebagai simbol kehormatan laki-laki Sunda.
Ragam bentuk iket pun beragam, mulai dari barangbang semplak, paros, lohen, hingga kole nyangsang. Setiap jenis memiliki filosofi tersendiri, mencerminkan karakter, situasi, hingga status sosial pemakainya, menunjukkan kekayaan tafsir budaya Sunda.

Bagi masyarakat kesatuan adat Banten Kidul, iket bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Digunakan saat bertani, berkebun, hingga menghadiri acara adat dan kegiatan resmi, iket menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id
Pimpinan Padepokan Sari Oneng yang berada di wilayah Desa Lebaksari, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, TB Dawang, menuturkan iket mencerminkan nilai hidup masyarakat Sunda.

- Baca Juga: https://mediaaksara.id/seni-lais-yang-mendebarkan-warnai-seren-taun-kasepuhan-sinar-resmi-sukabumi/
“Iket itu bukan hanya di kepala, tapi mengikat pikiran dan sikap perilaku, ada kesederhanaan, hormat, dan tanggung jawab di dalamnya,” ujarnya yang akrab dipanggil Bah Dawang, Sabtu (25/4/2026).
Kini, iket Sunda juga menemukan ruang baru di tengah gaya hidup modern. Selain hadir dalam upacara adat, iket mulai tampil di panggung seni, festival budaya, hingga tren fesyen lokal. Generasi muda pun mulai meliriknya sebagai simbol identitas yang membanggakan.
Lebih dari sekadar kain, iket adalah simpul nilai mengikat masa lalu, menjaga jati diri, dan menghubungkan generasi di tengah perubahan zaman.
Reporter: Asep M-Rhe
Redaktur: Rapik Utama







