Sosok Mbah M’bép bersama Putri Nelayan dalam puncak pelaksanaan Hari Nelayan Nasional ke-66 di Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Ribuan warga dan wisatawan memadati sepanjang Jalan Siliwangi hingga kawasan Alun-alun Gadobangkong, Palabuhanratu, Kamis (21/5/2026). Mereka antusias menyaksikan puncak peringatan Hari Nelayan Nasional ke-66 yang masuk dalam rangkaian Kharisma Event Nusantara dengan mengangkat tema Warisan Budaya Sunda.
Pawai budaya menjadi pusat perhatian masyarakat. Arak-arakan yang menampilkan Putri Nelayan, seni kreasi tradisional, hingga berbagai atraksi khas pesisir berlangsung meriah. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sukabumi Asep Japar bersama unsur Forkopimda Kabupaten Sukabumi.
Salah satu panitia Hari Nelayan, Asép Nurbagelar atau yang akrab disapa Abah M’bép, mengatakan pelaksanaan Hari Nelayan 2026 memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, dinamika kegiatan seni budaya Sunda dari tahun ke tahun ibarat pasang surut air laut yang selalu berubah mengikuti zaman.
“Selama pelaksanaan tahun ini, Abah berperan sebagai tokoh tua yang memimpin upacara adat sekaligus penulis cerita atau skenario. Alhamdulillah, meski persiapan singkat dan hanya satu kali latihan menggunakan gamelan, pagelaran bisa berlangsung luar biasa,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (22/5/2026).
Pada peringatan tahun ini, tema yang diangkat adalah prosesi penyerahan kekuasaan dari Putri Purnama Sari kepada putrinya, Mayang Sagara. Tema tersebut dikemas dalam filosofi Sunda bertajuk “Mika Asih Cai Di Kanyaah Lemah, Ciri Bakti Ka Gusti, Ciri Bakti Ka Nagari.”
Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id
Abah M’bép menjelaskan, pesan utama yang ingin disampaikan melalui upacara adat tersebut adalah pentingnya membangun budaya silih asah, silih asih, dan silih asuh dalam kehidupan bermasyarakat. Hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam harus dijaga secara harmonis.
Selain itu, ia juga berpesan kepada para Putri Nelayan agar tetap menjaga diri serta menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya perempuan Sunda, agar tidak melupakan budaya daerah dan tata krama warisan leluhur.
- Baca Juga: https://mediaaksara.id/kasus-ibu-tiri-tr-memanas-jaksa-kantongi-bukti-video-dan-puluhan-saksi/
“Kita orang Sukabumi kaya akan budaya yang harus terus dilestarikan dan dijaga. Nilai-nilai kesundaan harus tetap dipegang teguh,” katanya.
Ia menegaskan, Hari Nelayan bukan hanya menjadi tanggung jawab Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), melainkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah. Menurutnya, seluruh dinas dan instansi memiliki keterkaitan dalam mendukung suksesnya perhelatan budaya tingkat nasional tersebut.
Di akhir keterangannya, Abah M’bép menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama kegiatan berlangsung sekaligus mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan semua pihak yang telah berpartisipasi serta menghadiri perayaan Hari Nelayan Nasional ke-66 di Palabuhanratu.
Reporter: Sr1
Redaktur: Rapik Utama







