Home / Kabar Daerah

Sabtu, 25 April 2026 - 07:02 WIB

Terungkap! Katak Bertanduk ‘Penjaga Sunyi’ Jadi Penanda Sehatnya Hutan Halimun Salak

Katak bertanduk di Taman Nasional Gunung Halimun Salak jadi penanda alami kesehatan ekosistem hutan/ Foto: Istimewa

MEDIAAKSARA.ID – Di balik sunyi dan lembapnya lantai hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi, tersimpan kehidupan kecil yang nyaris tak terlihat. Seekor katak bertanduk diam membaur dengan serasah daun kering, menyatu sempurna dengan alam sekitarnya.

Sekilas, keberadaannya mudah terlewat. Namun, tonjolan kecil menyerupai tanduk di atas mata menjadi ciri khas unik dari kelompok Megophrys amfibi yang dikenal sebagai ahli kamuflase di hutan tropis.

Dengan warna cokelat dan tekstur tubuh menyerupai daun gugur, katak ini bertahan hidup dalam senyap. Ia mengandalkan penyamaran alami untuk menghindari predator sekaligus mengintai mangsa di sekitarnya.

Lebih dari sekadar menarik secara visual, katak bertanduk memiliki peran ekologis yang vital. Sebagai amfibi, mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Habitat yang lembap, air bersih, dan suhu stabil menjadi syarat utama bagi kelangsungan hidupnya.

Di kawasan TNGHS, kehadiran katak bertanduk menjadi indikator alami ekosistem masih terjaga. Aliran air yang jernih, tanah yang tetap basah, serta tutupan vegetasi yang rapat menciptakan kondisi ideal bagi spesies rentan ini.

 

  • Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id

 

Namun demikian, ancaman tetap mengintai. Perubahan tutupan hutan, aktivitas manusia, hingga dampak perubahan iklim berpotensi mengganggu keseimbangan habitat. Bahkan perubahan kecil pada kelembapan atau kualitas air dapat berdampak besar bagi populasi mereka.

Bagi masyarakat sekitar, keberadaan satwa kecil seperti ini kerap luput dari perhatian. Padahal, katak bertanduk berperan penting sebagai pengendali populasi serangga sekaligus bagian dari rantai makanan di hutan.

Syaipul Ramli (30), pemandu lokal ekowisata di TNGHS, menyebut bahwa satwa kecil justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Banyak pengunjung awalnya tidak sadar ada katak di depan mereka. Setelah ditunjukkan, mereka baru kagum karena ternyata hutan menyimpan kehidupan yang sangat detail,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman menemukan satwa tersembunyi seperti ini memberi kesan mendalam dan memperkaya makna perjalanan di alam liar.

 

Reporter : Asep M’rhe

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Politeknik Sukabumi: Job Fair 4 Kali Setahun, Peluang Kerja Bergaji Tinggi Makin Terbuka!

Kabar Daerah

Hobi Jadi Cuan! Petani Anggur Sukabumi Raup Jutaan, Askar Buka Peluang Usaha Agribisnis Menjanjikan

Kabar Daerah

Relawan KDM Sukabumi: Viral Dulu, Baru Bergerak! Jalan Cikujang Hancur Diduga Imbas Tambang, Siapa Tanggung Jawab?

Kabar Daerah

Dianggap Gulma, Ternyata Ampuh! Harendong Bulu Jadi Obat Alami Andalan Warga Halimun Salak

Kabar Daerah

Dibalik Konflik SMK Swasta di Bantargadung, Riuh Dana BOS 2026 Mencuat: Kepsek Angkat Suara

Kabar Daerah

Insentif Guru PAUD Tidak Sesuai? GAPURA Bongkar Dugaan Masalah Teknis, DPRD Siap Bentuk Pansus

Kabar Daerah

Proyek Jalan Gudang Bikin Pedagang Meradang! Omzet Ambles 50%, Akses Bikin Pelanggan Bingung

Kabar Daerah

Viral Jalan Berlumpur di Sukabumi “Lapor Pak Dedi” KNPI & Karang Taruna Desak Perusahaan Peka