Tangkapan layar video Kades Bojongraharja Cikembar Henhen Suhendar dengan warga diduga mabuk akan menghentikan pembangunan kandang ayam di dusun sedamukti, RT 02/RW 11/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Sebuah video yang beredar luas di sejumlah WhatsApp Group (WAG) memicu polemik dan perbincangan publik. Video tersebut menampilkan potongan perdebatan yang dinarasikan seolah-olah memperlihatkan sikap arogan seorang kepala desa terhadap warganya, lengkap dengan tudingan nada tinggi hingga dugaan kontak fisik.
Dalam caption video tidak mendetail keterangan, bahkan tertulis seolah provokatif: “Kepala Desa Arogan: Diduga Kepala Desa Bojongraharja Kabupaten Sukabumi berargumentasi dengan warga dengan nada tinggi dan kontak fisik.” Namun, video tersebut tidak disertai keterangan lengkap, tidak mencantumkan waktu kejadian, kronologi utuh, maupun identitas pembuatnya.
Perdebatan dalam video disebut-sebut terjadi karena warga mempertanyakan pembangunan kandang ayam di dusun sedamukti, RT 02/RW 11 di Desa Bojongraharja. Narasi tersebut kemudian memantik opini publik yang mempertanyakan etika kepemimpinan seorang kepala desa.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Bojongraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Henhen Suhendar, saat dikonfirmasi MediaAksara pada Rabu (14/1/2026), memberikan klarifikasi sekaligus meluruskan kronologi kejadian yang menurutnya tidak utuh dalam video viral tersebut.
Henhen menegaskan peristiwa bermula saat sejumlah orang yang diduga dalam kondisi mabuk menghentikan aktivitas pekerja di lokasi kandang dengan cara melempar batu.
“Kronologi sebelum kejadian, mereka oknum warga “preman kampung” yang rumahnya jauh dari lokasi kandang. Dalam keadaan diduga mabuk, mereka memberhentikan pekerja dengan cara melempar batu, sedangkan sosialisasi pemdes dari awal sudah dilakukan bersama warga terdekat ” ujar Henhen.
Ia mengakui bersikap tegas saat kejadian berlangsung, namun menegaskan tindakan tersebut dipicu oleh situasi yang tidak kondusif.
“Posisi saya memang agak keras, karena mereka dalam kondisi diduga mabuk. Dan mereka juga bukan warga yang dekat dengan lokasi kandang ayam petelur,” jelasnya.
Henhen juga menyoroti sosok dalam video yang mengenakan kaos putih dan berkacamata, berinisial Wwn, yang disebutnya warga setempat.
“Di video ada anak pakai kaos putih, berkacamata, namanya Wwn. Dia anak buah BR yang dulu mengelola Gunung Desa. Sekarang yang bersangkutan sedang dimintai keterangan di Polsek terkait penyebaran informasi tersebut,” tegas Henhen.
Sementara itu, MediaAksara juga menerima voice note dari Kepala Desa Henhen yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Dalam keterangannya, warga “Cpy” itu mengakui merasa dimanfaatkan oleh Wwn dan menegaskan bahwa persoalan kandang bukan tujuan utamanya.
” Tadi saya merasa diadukan oleh Wwn. Sebenarnya saya tidak mengungkit masalah kandang. Wwn meminta tolong ke saya untuk menggoyang proyek. Ceritanya seperti itu,” ujar “Cpy”.
Ia menambahkan bahwa sejak awal sudah memiliki firasat adanya kepentingan lain di balik kejadian tersebut.
“Saya sebenarnya sudah ada feeling, dimanfaatkan. Nanti dia yang muncul. Misi saya sebenarnya soal Gunung BUMDes dan tiga yang lainnya,” tambahnya.
Dengan klarifikasi ini, Kepala Desa Bojongraharja berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh potongan video tanpa konteks yang beredar di media sosial, serta mengedepankan klarifikasi dan informasi berimbang sebelum menarik kesimpulan.
Redaktur: Rapik Utama







