Kampung Cijambe di Bantargadung Sukabumi berubah sunyi setelah bencana pergerakan tanah pada Februari 2026/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID — Empat bulan pascabencana pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, suasana kampung itu kini berubah sunyi bak “kampung mati tanpa penghuni”.
Tidak lagi terdengar suara anak-anak bermain maupun aktivitas warga di halaman rumah. Yang tersisa hanyalah puing bangunan, retakan tanah, dan rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya sejak bencana terjadi pada awal Februari 2026 lalu.
Ratusan warga terdampak hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian. Sebagian bertahan di rumah kontrakan sederhana, sebagian lainnya menumpang di rumah kerabat sambil menunggu kepastian relokasi dari pemerintah.
Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kokoh kini rata dengan tanah. Beberapa titik bahkan masih terlihat mengalami pergeseran tanah yang membuat warga takut kembali menempati lokasi tersebut.
Pemerintah diketahui telah memberikan bantuan uang kontrakan selama enam bulan kepada korban terdampak. Namun bantuan itu dinilai belum mampu menghilangkan keresahan warga yang masih menanti kejelasan terkait rumah pengganti.
Salah seorang korban, Annisa (38), mengaku masih trauma mengingat detik-detik rumahnya roboh akibat tanah bergerak.
“Waktu itu semuanya cepat sekali. Tiba-tiba tanah bergerak, rumah retak, terus roboh,” ujarnya saat ditemui, Jumat (8/5/2026).
Kini ia bersama kedua anaknya tinggal di rumah kontrakan seadanya. Menurutnya, kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan, tetapi juga kehilangan rasa aman dan tempat pulang.
“Yang paling saya takutkan bukan soal ngontraknya, tapi nanti setelah enam bulan kami harus ke mana kalau belum ada rumah pengganti,” katanya sambil menahan air mata.
Kondisi Kampung Cijambe saat ini disebut semakin memprihatinkan. Banyak rumah dibiarkan kosong, jalan kampung sepi, dan kehidupan sosial warga yang sebelumnya erat perlahan terputus akibat bencana tersebut.
Di balik sunyinya kampung itu, tersimpan harapan ratusan korban agar pemerintah segera memberikan kepastian relokasi dan tempat tinggal yang layak untuk memulai kehidupan baru.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







