Viral menu Makan Bergizi Gratis berjamur memicu keresahan orang tua bila anaknya keracunan/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Media sosial Palabuhanratu diguncang beredarnya video berdurasi 30 detik memperlihatkan kondisi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebagian diduga tidak layak konsumsi. Video direkam oleh pengajar dan memperlihatkan tahu yang tampak berjamur serta sayuran yang mengeluarkan bau tak sedap.
Temuan ini memicu kekhawatiran serius terkait keamanan pangan bagi siswa sekolah, mengingat program MBG menyasar anak-anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan keracunan makanan.
Tak hanya dari video, keluhan juga datang dari unggahan akun grup Palabuhanratu @aweng tea, yang mengaku sebagai orang tua wali murid. Dalam unggahannya, ia menegaskan masukan dan peringatan telah berulang kali disampaikan, namun tidak pernah direspons dengan perbaikan nyata.
“Sudah berkali-kali dikasih saran agar memperbaiki kualitas menu MBG tapi tidak pernah ada perubahan. Dulu buahnya apel seperti buah jarak, sekarang tahu berjamur, sayur berlendir. Bahkan menu sayur hari ini dan kemarin sama saja,” tulisnya.
Dengan nada penuh kecemasan, orang tua wali murid secara terbuka meminta perhatian dan tindakan tegas dari para pemangku kebijakan.
“Tolong Bapak Bupati, Bapak Gubernur, Bapak Camat, Kepala Desa, dan Bapak Ibu BGN yang terhormat, adakan sidak ke dapur ARA, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
Baca: https://mediaaksara.id/menu-tahu-mbg-berjamur-guru-dan-siswa-di-simpenan-dilarikan-ke-puskesmas/
Kami sebagai orang tua wali murid minta kebijakan sebelum anak-anak kami keracunan,”pungkasnya.
Sementara itu, Camat Simpenan, Supendi, saat dikonfirmasi MediAksara, membenarkan adanya siswa yang mengalami dugaan keracunan makanan.
Ia menjelaskan pihak Forkopimcam telah mengambil langkah awal penanganan.
“Untuk sementara kita sudah melaksanakan beberapa langkah. Yang sakit sudah masuk ke puskesmas, dan empat orang dirujuk ke rumah sakit. Informasi sementara sebagian masih dalam pemulihan,” ujar Supendi melalui sambungan seluler, Kamis (29/01/2026).
Namun demikian, Supendi menyebutkan perkembangan jumlah korban masih dinamis dan dapat bertambah atau berkurang, sehingga informasi lebih lanjut berada di ranah pihak Puskesmas.
Ia juga berpendapat yayasan SPPG sebagai pengelola MBG merupakan pihak swasta dan tidak berada langsung di bawah institusi pemerintah.
Terkait kemungkinan penghentian sementara penyaluran MBG, Supendi menegaskan keputusan tidak bisa diambil sepihak.
“Forkopimcam terus memantau. Kita tidak bisa memutuskan sendiri. Hari ini akan berkonsolidasi dengan Forkopimcam dan membahas bersama Pak Bupati,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi sorotan luas publik dan menanti langkah tegas pemerintah daerah untuk memastikan keselamatan serta kualitas gizi anak-anak sekolah tetap terjaga.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







