Home / Kabar Daerah

Minggu, 28 Desember 2025 - 06:50 WIB

Upah 2026 Ditetapkan KDM Naik 6,31 persen, Serikat Buruh Sukabumi Kecewa: Dinilai Abaikan Rekomendasi Daerah

Aksi Buruh kawal pleno Dewan Pengupahan Kabupaten Sukabumi di Dinas Sosial, komplek GOR Cisaat / Foto: MediaAksara

MEDIAAKSARA.ID – Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SP TSK SPSI) Kabupaten Sukabumi menyatakan kekecewaan atas terbitnya Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat terkait penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP), Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) Tahun 2026 yang ditandatangani Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM).

Pada Rabu, 24 Desember 2025, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menetapkan UMK melalui SK Nomor 561.7/Kep.862-Kesra/2025. Dalam keputusan, UMK Kabupaten Sukabumi ditetapkan sebesar Rp3.831.926, naik Rp227.444 atau sekitar 6,31 persen dari UMK 2025 sebesar Rp3.604.482.

Ketua FSP TSK SPSI Kabupaten Sukabumi, Mochammad Popon, menilai kebijakan tersebut mencerminkan rendahnya keberpihakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap kesejahteraan buruh, khususnya karena tidak mengakomodasi rekomendasi dari bupati dan wali kota.

Baca: https://mediaaksara.id/relawan-kdm-dampingi-orang-tua-korban-kekerasan-seksual-anak-sukabumi-ke-lembur-pakuan-minta-pendampingan-hukum-jabar-istimewa/

Menurut Popon, dalam mekanisme penetapan UMK dan UMSK, seharusnya Gubernur Jawa Barat menjadikan rekomendasi kepala daerah sebagai dasar utama. Pasalnya, rekomendasi disusun melalui pertimbangan matang dengan melibatkan kondisi riil daerah, bukan secara sembarangan.

“Bupati dan wali kota tentu menyampaikan rekomendasi berdasarkan kebutuhan hidup layak, kondisi ekonomi daerah, dan realitas buruh di wilayah masing-masing. Sayangnya, hal itu tidak dijadikan rujukan utama,” tegasnya dalam rilis resmi.

Lebih lanjut, SP TSK SPSI menyoroti kebijakan upah murah yang berlangsung selama bertahun-tahun di Jawa Barat terbukti tidak mampu menurunkan angka kemiskinan ekstrem maupun pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Jawa Barat mencapai 3,65 juta jiwa atau 7,02 persen, menempati peringkat kedua tertinggi secara nasional di bawah Jawa Timur.

Baca: https://mediaaksara.id/umk-sukabumi-rp3-830-926-gsbi-menduga-janji-kdm-tak-ditepati-soal-upah-buruh-2026/

Sementara itu, dari sisi ketenagakerjaan, Jawa Barat juga mencatatkan jumlah pengangguran tertinggi secara nasional, yakni sekitar 1,8 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka mencapai 6,77 persen, atau berada di peringkat ketiga setelah Papua Barat dan Papua.

Popon menilai kondisi tersebut ironis, mengingat Jawa Barat bukan daerah otonomi baru dan memiliki jumlah penduduk serta kawasan industri yang jauh lebih besar dibanding provinsi lain.

“Upah buruh yang rendah berdampak langsung pada daya beli, tingkat konsumsi masyarakat, dan akhirnya berpengaruh pada lambatnya pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Baca: https://mediaaksara.id/sah-umk-sukabumi-2026-tembus-rp38-juta-rekomendasi-bupati-resmi-dikirim-ke-gubernur-jabar/

Ia menegaskan persoalan pengangguran tidak seharusnya diselesaikan dengan menekan upah buruh. Sebaliknya, pemerintah daerah dituntut menghadirkan terobosan kebijakan yang kreatif, seperti membuka alternatif lapangan kerja baru, menarik investasi berkualitas, serta memberikan insentif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa memiskinkan pekerja.

“Melanggengkan kebijakan upah murah selama puluhan tahun justru menunjukkan kemandekan kreativitas dan minimnya terobosan pemerintah daerah,” tandasnya.

SP TSK SPSI Kabupaten Sukabumi pun mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghentikan kebijakan upah murah yang dinilai semakin memiskinkan buruh dan tidak efektif dalam menurunkan angka pengangguran maupun kemiskinan di Jawa Barat.

 

Sumber : SP TSK SPSI Sukabumi

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Kumis Ucing, Warisan Obat Tradisional dari Pekarangan Desa Penyangga Halimun

Kabar Daerah

Konferensi PWI Sukabumi 2026 Makin Dekat, Jabar Turun Tangan Kawal Suksesi Kepemimpinan

Kabar Daerah

Tak Sekadar Masak! Dinkes Sukabumi Latih Penjamah Makanan SPPG Demi Standar Nasional

Kabar Daerah

Sekolah Rusak, Harapan 57 Pelajar: Begini Potret SDN Kaum Hegarmanah Sukabumi

Kabar Daerah

UMKM Lokal Naik Kelas: S&F Shoes Sukabumi Tawarkan Sandal Berkualitas Harga Bersaing

Kabar Daerah

HHBK Dongkrak Ekonomi Desa: Madu Trigona hingga Kopi Cipeuteuy Mulai Dilirik Pasar

Kabar Daerah

Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu, Petani Sukabumi Justru Terima Setengahnya, Ada Apa di Balik Rantai Distribusi?

Kabar Daerah

Operasi Lebih Aman di RSUD Jampangkulon, Peran Dokter Anestesi Jadi Kunci Keselamatan Pasien