Kumpulan warga bersama Pemdes Ciparay, Jampangkulon, Sukabumi, menggelar Salat Istisqa di tengah lahan sawah / Foto: Istimewa
JAMPANGKULON, MEDIAAKSARA.ID – Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, warga Desa Ciparay, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, memilih menempuh ikhtiar amaliyah dengan menggelar Salat Istisqa, Jumat (16/10/2026) di lahan sawah warga di Kp. Karya Bakti. Ratusan warga bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Ciparay berkumpul untuk memohon turunnya hujan di tengah kekhawatiran terhadap ketersediaan air.
Bagi masyarakat pedesaan yang menggantungkan kehidupan pada ketersediaan air, kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Kondisi ini dapat memengaruhi kebutuhan rumah tangga, aktivitas pertanian, hingga keberlangsungan sumber air di lingkungan sekitar.
Di tengah situasi itu, Salat Istisqa menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memanjatkan doa agar hujan segera turun.
Kepala Desa Ciparay, Asep Saepudin, mengatakan pelaksanaan salat merupakan bentuk penghambaan dan pengakuan atas keterbatasan manusia dalam menghadapi kondisi alam.
Baca Juga :
7 Warga Bojonggenteng Terima Bantuan Rutilahu 2026, Anggaran Rp20 Juta per Rumah
”Salat Istisqa adalah wujud pengakuan kita sebagai manusia yang lemah di hadapan alam dan Allah SWT. Kita berkumpul, membersihkan hati, dan memperbanyak istigfar karena kami meyakini sumber air adalah berkah yang hanya bisa diturunkan oleh-NYA,” ujar Asep.
Namun, menurut Asep, ikhtiar menghadapi kekeringan tidak cukup berhenti pada doa. Momentum juga harus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan menjaga sumber daya air yang masih tersedia.
”Melalui salat ini, kita ingin membangun kesadaran atau Muhasabah. Selain berdoa, kita diingatkan untuk semakin peduli pada lingkungan, menjaga mata air, dan merawat ekosistem desa agar ke depannya kita tidak lagi mengalami krisis yang sama,” tegasnya.
Baca Juga :
Kejar HP Hilang Berujung ke Sungai, Terduga Pencuri di Sukabumi Hilang Ditelan Arus
Pesan hikmah ini menempatkan kekeringan bukan hanya sebagai persoalan yang dihadapi ketika hujan tak kunjung turun, melainkan juga sebagai pengingat pentingnya menjaga sumber air dan lingkungan secara berkelanjutan.
Di tengah ketidakpastian cuaca, masyarakat membutuhkan kebersamaan dan kepedulian sosial untuk menghadapi dampak kemarau. Ikhtiar spiritual dapat menjadi sumber kekuatan batin, sementara upaya menjaga mata air, mengelola penggunaan air, dan merawat lingkungan menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko kekeringan.
Salat Istisqa di Desa Ciparay pun menjadi cerminan harapan masyarakat agar hujan segera turun. Seusai salat, warga melantunkan doa disertakan salawat agar kemarau berakhir dan keberkahan kembali menyertai kehidupan mereka.
Di tanah kering yang menanti hujan, doa menjadi ikhtiar yang dipanjatkan bersama. Namun, menjaga air yang masih tersisa tetap menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan setiap hari.
Reporter: @Sadeva
Redaktur : Rapik Utama 11







