Home / Sosial Ekonomi

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Potret Kemiskinan di Jalanan Kota Cibadak, Orang Tua Berjuang Menghidupi Anak Dari Memulung

Di Tengah Hiruk Pikuk Jalan Kota Cibadak Sukabumi, Ada Keluarga yang Berjuang dari Hasil Memulung / Foto: Istimewa

‎CIBADAK, SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID – Di tengah hiruk pikuk lalu lintas pusat Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, sepasang suami istri bersama anak balitanya terlihat beristirahat di trotoar dekat Kantor Kecamatan Cibadak, Senin (26/10/2026).

‎Beralaskan kardus, keluarga kecil itu duduk di atas trotoar yang dilengkapi jalur bagi penyandang disabilitas. Di samping mereka, sebuah karung putih besar berisi botol plastik bekas dan tas ransel lusuh menjadi barang bawaan yang menemani aktivitas sehari-hari.

‎Pemandangan kacamata sosial menjadi potret perjuangan keluarga yang menggantungkan penghasilan dari mengumpulkan barang bekas. Di tengah kendaraan yang terus melintas dan aktivitas warga yang berjalan seperti biasa, mereka beristirahat sejenak sebelum kembali menyusuri jalanan.

‎Saat ditemui awak media, sang ayah mengaku berasal dari Kecamatan Surade, wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.

‎”Dari Surade, Kang,” jawabnya singkat ketika ditanya asalnya.


BACA JUGA : ‎

Legalitas Kebun Sawit Warungkiara Disoal Publik, FORMAWAR Siapkan Aksi dan Tuntut Transparansi Izin ‎

‎Saat ditanya mengenai pekerjaannya, ia menjawab pelan, “Pemulung”.

‎Percakapan berlanjut dengan pertanyaan mengenai kondisi kehidupannya di kampung halaman. Dengan singkat, ia menjawab, “Sama saja susah,” sebelum beranjak meninggalkan lokasi.

‎Dari percakapan singkat, tergambar perjuangan mencari penghasilan di tengah keterbatasan ekonomi. Keluarga ini merantau dengan harapan memperoleh uang dari hasil mengumpulkan barang bekas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

‎Momen yang mengundang empati terlihat ketika sang ayah memeluk erat anak laki-lakinya. Di tengah aktivitas memulung, ia tersenyum lebar sambil mendekap buah hatinya.

‎Sang anak membalas pelukan itu dengan erat, menyandarkan wajahnya ke dada sang ayah. Sementara itu, sang ibu tampak merapikan karung berisi barang bekas yang mereka kumpulkan.


‎BACA JUGA : ‎

‎Kredit Mantap PPPK BPR Sukabumi Tawarkan Plafon Rp250 Juta, Bebas Biaya Administrasi ‎

‎Tak lama berselang, keluarga kembali bersiap melanjutkan perjalanan. Sang ibu memanggul karung, sedangkan sang ayah menggendong anaknya. Mereka kemudian berjalan menyusuri trotoar di tepi Jalan Raya Cibadak yang ramai dilalui kendaraan.

‎Karung yang belum terisi penuh menjadi gambaran bahwa upaya mengumpulkan barang bekas tidak selalu menghasilkan pendapatan yang cukup dalam waktu singkat. Namun, tanpa mengetahui penghasilan dan kondisi keluarga secara menyeluruh, tingkat kesulitan ekonomi mereka belum dapat diukur hanya dari apa yang terlihat.

‎Seorang warga yang berada di sekitar lokasi mengaku prihatin melihat kondisi tersebut.

‎”Ini menjadi pengingat di tengah pembangunan dan aktivitas ekonomi, masih banyak warga yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.


‎BACA JUGA : ‎

Prabowo Terima Gubernur URI di Hambalang, 384 Peserta Program Pemimpin Masa Depan Siap Magang 2027

‎Kisah keluarga ini membuka ruang refleksi mengenai tantangan penghidupan yang dihadapi sebagian masyarakat. Bagi keluarga yang menggantungkan pendapatan pada pekerjaan informal seperti memulung, penghasilan dapat bergantung pada jumlah barang yang terkumpul dan nilai jualnya.

‎Meski demikian, satu peristiwa di jalanan belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan kondisi kemiskinan di suatu wilayah. Diperlukan data dan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui akses keluarga terhadap pekerjaan, pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, serta program perlindungan sosial.

‎Kondisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran pemerintah dan kepedulian masyarakat dalam memastikan kelompok rentan memperoleh akses terhadap layanan dasar dan kesempatan hidup yang layak.

‎Keluarga kecil yang ditemui di Cibadak itu mungkin hanya satu dari sekian banyak potret perjuangan ekonomi yang luput dari perhatian. Di balik aktivitas sederhana mengumpulkan botol plastik, ada tanggung jawab menghidupi keluarga dan harapan untuk memenuhi kebutuhan hari berikutnya.

‎Di tengah ramainya jalanan, perjuangan mereka berlangsung tanpa banyak suara. Bukan sekadar tentang karung rongsok yang belum penuh, melainkan tentang bagaimana setiap keluarga berusaha bertahan dan menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya.

‎

‎Sumber : @RD 19

‎Redaktur : Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Sosial Ekonomi

Gerai Dekranasda Jadi Sarana Promosi Produk UMKM Sukabumi ke Wisatawan ‎

Sosial Ekonomi

Pendamping Sosial Jampangkulon Perbarui Data DTSEN Warga Desa Tanjung Usai Viral di Media Sosial

Sosial Ekonomi

‎51 Rumah Tak Layak Huni di Ciambar Dapat Bantuan BSPS 2026, Pemdes Gelar Tender Rakyat ‎

Sosial Ekonomi

‎7 Warga Bojonggenteng Terima Bantuan Rutilahu 2026, Anggaran Rp20 Juta per Rumah

Sosial Ekonomi

Rutilahu Cicurug 2026: Disperkim Sukabumi Intervensi 7 dari 12 Usulan Rutilahu ‎

Sosial Ekonomi

Wabup Sukabumi Pantau Dampak Cuaca Ekstrem di Cicurug, Kesiapsiagaan Diperkuat

Sosial Ekonomi

Gerak Sosial YFSBBP Salurkan Bantuan Korban Kebakaran di Kalibunder ‎

Sosial Ekonomi

Keterbatasan Tak Halangi Karya: Difabel Cipuntang Sukabumi Lukis Wajah Mirip KDM dan Menulis Sastra