Abah Jumha, 80 tahun dan sang anak yang sakit mata bertahan di rumah 3×4 meter yang nyaris ambruk, warga Kampung Cirendeu Lebak, RT 05/RW 08, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi / Foto: Istimewa
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID — Di balik hiruk-pikuk kehidupan masyarakat, masih banyak keluarga yang menjalani hari dalam kemiskinan. Salah satunya keluarga Abah Jumha, 80 tahun, warga Kampung Cirendeu Lebak, RT 05/RW 08, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.
Abah Jumha tinggal bersama istrinya, Ciah, serta dua anaknya, Ajad (48) dan Ruslan (34), di sebuah rumah berukuran sekitar 3×4 meter yang kondisinya nyaris ambruk.
Rumah yang berdiri di atas tanah milik pemerintah daerah dan berada tepat di samping kandang domba. Keterbatasan lahan membuat keluarga itu tak memiliki banyak pilihan. Aroma tak sedap dari kandang menjadi bagian dari keseharian mereka.
”Kami sudah tinggal di sini puluhan tahun. Mau pindah ke mana, ini juga numpang,” ujar Abah Jumha saat ditemui, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga :
Rumah Warga di Sukabumi Ludes Terbakar, Kerugian Capai Puluhan Juta
Kondisi keluarga semakin sulit setelah sang anak, Ajad mengalami kecelakaan ketika mencari bambu untuk memperbaiki kandang. Mata kirinya tertusuk bilah bambu hingga harus menjalani operasi. Sejak kejadian itu, ia belum dapat kembali bekerja.
Padahal, Ajad menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ia biasa bekerja serabutan bersama Ruslan sekaligus mencari rumput untuk pakan enam ekor domba milik keluarga.
”Ajad yang biasa kerja serabutan sama adiknya. Dia juga yang cari rumput buat pakan domba, itu satu-satunya harta kami,” kata Abah Jumha.
Kini, beban keluarga lebih banyak dipikul Ruslan. Selain bekerja serabutan, ia harus mencari rumput untuk tiga domba dewasa dan tiga anak domba yang menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga.
”Sejak saya sakit, semua jadi adik yang ngerjain. Cari rumput juga dia sekarang,” liriy Ajad.
Baca Juga :
Kritik Desil DTSEN Disorot Zainul, Warga Miskin Terancam Kehilangan Bantuan hingga KIP Pendidikan
Di tengah keterbatasan, keluarga tersebut tetap berusaha bertahan. Kendati kondisi dapur seadanya dengan tungku kayu bakar masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Abah Jumha hanya berharap kondisi Ajad segera membaik sehingga anaknya dapat kembali bekerja dan membantu memperbaiki rumah yang atap serta dindingnya mulai lapuk dimakan usia.
”Mudah-mudahan Ajad cepat sembuh. Dia tumpuan kami di rumah ini,” harapnya.
Terpisah, Kepala Desa Darmareja, Cecep membenarkan kondisi keluarga Abah Jumha yang cukup memprihatinkan. Menurutnya, status lahan menjadi salah satu kendala dalam pengajuan bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni (Rutilahu).
Baca Juga :
”Kami ikut prihatin. Saat ini pemdes sedang berjuang agar tanah yang ditempati Abah Jumha bisa disertifikatkan atas nama beliau. Kalau sudah milik pribadi, baru bisa kami ajukan Rutilahu,” jelas Cecep.
Sembari menunggu kepastian status tanah, pemerintah desa mendorong gotong royong warga untuk membantu memperbaiki rumah keluarga tersebut secara swadaya.
Pemdes juga berharap pemerintah daerah maupun masyarakat yang memiliki kepedulian sosial dapat memberikan bantuan kepada keluarga Abah Jumha.
Kisah keluarga ini menjadi gambaran bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya menyangkut keterbatasan ekonomi, tetapi juga menyentuh persoalan tempat tinggal, kepemilikan lahan, akses bantuan, hingga hilangnya sumber penghasilan akibat musibah.
Sumber: @RTd
Redaktur: Rapik Utama







