Sosialisasi pembuatan eco-enzyme Mahasiswa kelompok 6E KKN Nusa Putra ke warga Desa Gunung Malang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi / Foto: Istimewa
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID — Limbah buah dan sayuran rumah tangga berpotensi dimanfaatkan kembali. Hal itu diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Riset Kelompok 6E Universitas Nusa Putra melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Gunung Malang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi.
Program yang telah berlangsung pada Juli hingga September 2026 mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Gunung Malang melalui Pengelolaan Limbah Organik dan Pemanfaatan Eco-Enzyme.”
Kegiatan dirancang berdasarkan hasil observasi lapangan serta komunikasi bersama masyarakat dan perangkat desa untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan di wilayah tersebut.
Salah satu fokus kegiatan adalah edukasi pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi eco-enzyme. Hasil observasi mahasiswa menunjukkan sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik lainnya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh sebagian masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan eco-enzyme, yakni cairan hasil fermentasi limbah buah atau sayuran dengan sumber gula dan air.
Baca Juga :
Kegiatan yang dilaksanakan pada 30 Agustus 2026 itu melibatkan 30 ibu rumah tangga dari keluarga petani Desa Gunung Malang. Peserta mendapatkan materi mengenai pemilihan bahan, tahapan pembuatan, proses fermentasi, penyimpanan hingga pemanfaatan eco-enzyme pada tanaman.
Dalam praktiknya, mahasiswa memperagakan penggunaan limbah buah atau sayuran, gula merah atau molase, dan air dengan perbandingan 3:1:10. Contoh takaran yang digunakan terdiri dari 3 kilogram limbah buah atau sayuran, 1 kilogram gula merah atau molase, dan 10 liter air.
Campuran bahan limbah kemudian disimpan untuk menjalani proses fermentasi selama kurang lebih tiga bulan.
Pendekatan sosialisasi dilakukan agar masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga dapat melihat secara langsung proses pengolahan limbah organik yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga.
Untuk penggunaan pada tanaman, materi sosialisasi menjelaskan bahwa eco-enzyme perlu diencerkan terlebih dahulu. Takaran yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut yakni 2–3 mililiter eco-enzyme per liter air untuk penyemprotan daun serta 3–5 mililiter per liter air untuk penggunaan di sekitar perakaran.
Baca Juga :
Tim KKN juga menjelaskan eco-enzyme diperkenalkan sebagai pendamping perawatan tanaman, bukan sebagai pengganti seluruh kebutuhan pupuk utama.
Melalui kegiatan KKN, masyarakat mendapatkan pengalaman dalam memanfaatkan kembali limbah buah dan sayuran yang sebelumnya berpotensi dibuang.
Program ini mengedepankan prinsip menghadirkan solusi sederhana berdasarkan kebutuhan masyarakat. Bahan yang digunakan juga relatif mudah ditemukan di lingkungan rumah tangga.
Meski demikian, dampak program terhadap peningkatan pengetahuan maupun keberlanjutan penggunaan eco-enzyme belum dapat diukur secara kuantitatif selama periode KKN. Hal itu karena kegiatan tidak menggunakan pre-test dan post-test, sementara proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Mahasiswa KKN Riset Kelompok 6E berharap pengetahuan yang diberikan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Gunung Malang dalam mengembangkan praktik pengelolaan limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan.
Sumber: Dokumentasi KKN Riset Kelompok 6E Universitas Nusa Putra
Redaktur: Rapik Utama







