Kisah Ibu Nung (60), korban pergerakan tanah Kampung Cijambe, bertahan di tenda pengungsian SDN 1 Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Selasa (3/3/2026) / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Di bawah terpal pengungsian yang berdiri di halaman SDN 1 Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, tampak seorang perempuan lanjut usia duduk bersandar dengan tubuh letih. Ia adalah Ibu Nung (60), korban pergerakan tanah di Kampung Cijambe. Wajahnya tenang, namun cerita yang keluar dari bibirnya menyimpan kelelahan panjang.
Dalam satu tenda, delapan orang harus berbagi ruang sempit. Saat hujan turun, air merembes masuk dan membasahi lantai. Tikar menjadi satu-satunya alas tidur, dilapis seadanya agar tubuh tak langsung menyentuh tanah yang dingin.
“Kalau hujan kebanjiran, airnya masuk terus,” ucapnya saat ditemui di pengungsian, Selasa (3/3/2026).
Bagi Ibu Nung, malam hari adalah waktu paling berat. Tidur tak lagi sekadar kebutuhan, melainkan kemewahan yang sulit diraih. Ada yang terpaksa duduk, ada pula yang rebahan bergantian demi sekadar memejamkan mata.
Meski demikian, ia mengaku bersyukur soal logistik. Makanan tercukupi dan bantuan datang tepat waktu.
“Alhamdulillah makan mah cukup, enak. Nggak kekurangan,” katanya.
Namun rasa aman belum sepenuhnya ia miliki. Genangan air di sekitar tenda dan kondisi tanah yang terus bergerak membuatnya cemas. Rumahnya kini berada di zona rawan, dengan air tanah yang terus naik.
“Kalau bisa mah dipindah. Soalnya itu sudah rawan banget,” ujarnya.
Harapan Ibu Nung sederhana namun berat maknanya: hunian yang aman untuk melanjutkan hidup. Jika tak memungkinkan, ia berharap ada ganti rugi agar keluarganya bisa memulai dari tempat lain.
“Buat anak-anak. Yang penting aman,”tuturnya menutup kisahnya di pengungsian.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







