Camat Bantargadung bersama tim gabungan saat meninjau lokasi terdampak pergerakan tanah di Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID — Dua tahun pascabencana pergerakan tanah yang melanda warga Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kondisi terpantau masih jauh dari kata aman. Rumah retak, lantai bergeser, hingga bangunan miring masih menjadi ancaman nyata yang setiap hari dihadapi masyarakat.
Bencana yang terjadi pada Desember 2024 itu menyisakan kerusakan serius. Hingga April 2026, penanganan permanen belum juga dirasakan warga terdampak.
Salah seorang warga, Jamal, menggambarkan kondisi tersebut dengan nada pasrah. Ia menunjuk rumah yang masih berdiri, namun dalam kondisi rapuh dan berisiko roboh sewaktu-waktu.
“Ini rumah sudah parah, tapi belum roboh. Sebagian sudah dikosongkan,” ujarnya.
Meski berbahaya, tidak semua warga meninggalkan rumah mereka. Sebagian tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.
“Ya mau gimana lagi, sudah tidak ada tempat tinggal lain,” katanya lirih.
Situasi ini memperlihatkan korban penyintas terpaksa memilih bertahan. Kekecewaan pun muncul karena hingga kini belum ada kepastian bantuan dari pemerintah.
- Baca Juga: https://mediaaksara.id/semarak-karnaval-hut-ke-112-lalu-lintas-kota-sukabumi-tetap-lancar/
“Sejak 2024 belum ada kejelasan sampai sekarang,” tambahnya.
Camat Bantargadung, Syarifuddin, membenarkan masih ada puluhan warga yang belum mendapatkan bantuan hunian.

“Tercatat 30 kepala keluarga terdampak belum menerima bantuan hunian tetap (Huntap) maupun hunian sementara (Huntara),” jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026).
Ia menambahkan, total kerusakan mencapai 30 rumah dan satu masjid akibat pergerakan tanah tersebut.
Dalam kondisi terbatas, sebagian warga mulai membangun kembali secara mandiri di lahan relokasi.
“Sebanyak 8 kepala keluarga sudah membangun sendiri di lahan relokasi dari perkebunan PT Citimu. Sisanya, 22 KK masih bertahan di lokasi bencana atau mengungsi ke rumah keluarga,”ungkapnya.
Namun, tidak semua warga memiliki kemampuan untuk membangun kembali tempat tinggalnya. Banyak yang akhirnya tetap tinggal di rumah retak, menghadapi risiko demi kebutuhan dasar akan tempat berteduh.
Ironisnya, para korban juga belum menerima bantuan uang sewa atau dana tunggu hunian (DTH).
“Korban belum mendapatkan bantuan sewa maupun pembangunan Huntap dan Huntara,” tegas Syarifuddin.
Pemerintah kecamatan sebenarnya telah menyiapkan lahan relokasi seluas dua hektare di Kampung Cikobak, Desa Limusnunggal. Sebagian warga bahkan telah memanfaatkannya secara mandiri.
Meski demikian, realitas di lapangan belum berubah signifikan. Warga masih hidup di tengah ancaman pergerakan tanah dan ketidakpastian bantuan.
Di Kampung Cihurang, yang runtuh bukan hanya bangunan. Harapan warga pun perlahan ikut retak, menunggu kepastian yang belum kunjung datang.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







