Potensi menjanjikan pemberdayaan ekonomi ASKAR melalui agribisnis tani anggur di Sae Garden Anggur Lestari 2 di Desa/Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi / Foto: MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID – Komoditas anggur mulai menunjukkan potensi besar sebagai sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat di daerah. Hal ini dibuktikan oleh Saepudin, Ketua Asosiasi Komoditas Anggur (ASKAR) Sukabumi Raya sekaligus pemilik Sae Garden Anggur Lestari 2 yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Desa/Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi.
Baru berjalan satu tahun, usaha yang dirintisnya tak hanya fokus pada penjualan buah, tetapi juga mengembangkan ekosistem agribisnis anggur secara terpadu. Mulai dari penyediaan bibit unggul, konsultasi perawatan, desain kebun, hingga pelatihan budidaya bagi masyarakat.
“Awalnya hobi sambil belajar secara autodidak. Sekarang kami melayani penjualan berbagai varietas anggur impor berkualitas, sekaligus membuka pelatihan dan pendampingan,” ujar Saepudin kepada MediaAksara, Jumat (24/4/2026).
Saat ini, terdapat sedikitnya 12 varietas anggur yang dikembangkan, di antaranya Jupiter, Dixon, Red Master, dan Isabella. Bibit pun diproduksi secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperluas jaringan petani.

Dalam satu kali panen awal di lahan seluas 100 meter persegi, hasil yang diperoleh diperkirakan bisa mencapai 150 kilogram. Dari 15 pohon anggur dalam greenhouse (GH) , satu pohon bisa menghasilkan hingga 10 kilogram buah. Artinya, total panen bisa mencapai 150 kilogram dengan nilai jual Rp100 ribu jadi sekitar Rp15 juta per siklus panen.
“Dalam setahun atau idealnya satu tahun setengah bisa panen antara satu atau dua kali. Selain jual buah, kami juga mengembangkan konsep petik sendiri dengan harga Rp100 ribu per kilogram,” jelasnya.
Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id
Tak hanya menguntungkan secara ekonomi, konsep ini juga menarik minat masyarakat. Banyak pengunjung datang langsung ke kebun untuk merasakan pengalaman memetik anggur segar.

Dari sisi investasi, modal awal berkisar Rp20–23 juta, termasuk bibit dan sarana pendukung GH seluas 100 meter persegi. Tak hanya itu, Saepudin katakan harga bibit dijual antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per batang, lengkap dengan garansi dan pembinaan. Pembeli bibit secara otomatis menjadi bagian dari komunitas ASKAR yang kini telah memiliki sekitar 30 anggota di Sukabumi.
Meski menjanjikan, budidaya anggur juga memiliki tantangan, terutama serangan hama dan penyakit jamur. Selain itu, gangguan burung menjelang panen juga menjadi perhatian. Namun, dengan pengalaman dan pembelajaran, kendala tersebut kini dapat diatasi.
Upaya pemberdayaan ini pun mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Bupati Sukabumi disebut mengapresiasi pengembangan komoditas anggur dan berencana mendukung proses sertifikasi ASKAR melalui Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi.
Tak hanya di tingkat lokal, Saepudin juga kerap diundang sebagai narasumber oleh berbagai instansi, termasuk perbankan, untuk berbagi pengalaman membangun usaha mandiri di sektor pertanian.
“Prospek anggur sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik. Ini bisa jadi peluang usaha baru bagi masyarakat, serta sabagai sarana tadabbur alam ” pungkasnya.
Reporter: Sr1
Redaktur: Rapik Utama







