Pimpinan Ponpes Ariyadul Falah, H Abdul Muis saat diwawancarai awak media di lokasi pergerakan tanah Kampung Cijambe, Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Senin (2/3/2026) / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tak hanya menyisakan luka fisik berupa bangunan yang rusak. Di balik retakan tanah itu, tersimpan kisah pilu terhentinya pendidikan puluhan santri di Pondok Pesantren Ariyadul Falah.
Bangunan pesantren dilaporkan mengalami retak serius hingga sebagian ambruk. Aktivitas belajar mengajar pun terpaksa dihentikan total demi keselamatan semua pihak.
Pimpinan ponpes, Abdul Muis, menuturkan detik-detik mencekam saat suara retakan mulai terdengar dari dinding bangunan.
“Awalnya lama-lama semua bangunan itu retak. Saya sempat dengar suara retakan, panik juga,” ujarnya kepada awak media, Senin (2/3/2026), sambil mengevakuasi sejumlah barang pesantren.
Menurutnya, suara retakan tersebut tidak terjadi sekali. Bunyi “krek… krek…” yang disertai getaran kecil kerap terdengar, menyerupai gemuruh dari dalam tanah.
“Kalau dibilang ada tanda gempa, nggak ada sama sekali. Tiba-tiba saja bangunan retak begitu,” ungkapnya.
- Baca Juga: https://mediaaksara.id/hujan-sepekan-tanah-bergerak-di-bantargadung-25-rumah-warga-terdampak/
Saat peristiwa terjadi, terdapat sekitar 80 santri dan santriwati yang sedang menimba ilmu di pesantren. Demi menghindari risiko yang lebih besar, seluruh santri akhirnya dipulangkan ke rumah masing-masing, sebagian besar berasal dari luar daerah Sukabumi.
“Santri sudah kami pulangkan semua. Bangunan sudah tidak bisa ditempati, sebagian ambruk total,” jelasnya.
Data sementara mencatat, 16 kamar santri laki-laki terdampak, mencakup tiga kompleks bangunan, yakni dua kompleks santri putra dan satu kompleks santri putri, termasuk masjid pesantren yang ikut mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah.
Abdul Muis mengaku telah berupaya berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mencari solusi sementara agar proses pendidikan santri tidak terhenti terlalu lama. Namun hingga kini, belum ada kejelasan.
“Belum ada solusi,” katanya singkat.
Meski diliputi keterbatasan, semangat untuk mempertahankan pendidikan para santri tak padam. Ia berharap ada perhatian dan uluran tangan dari berbagai pihak.
“Saya berharap ada dermawan. Saya juga terus memikirkan bagaimana santri dan santriwati bisa belajar lagi,” pungkasnya.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







