Polemik menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bantargadung Sukabumi menjadi sorotan publik usai keluhan warga terkait kualitas dan komposisi makanan/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi sorotan publik setelah beredarnya foto paket makanan yang dinilai kurang memenuhi ekspektasi masyarakat terhadap standar gizi program tersebut.
Foto menu MBG yang tersebar di media sosial Facebook memperlihatkan satu porsi makanan berisi nasi putih, dua buah jeruk, dua potong timun, dua lembar tahu, seiris tomat, otak-otak, serta satu kotak susu kemasan. Menu tersebut memicu berbagai komentar dari warganet karena dianggap terlalu sederhana.
Sejumlah warga juga menyoroti kualitas makanan, khususnya tekstur otak-otak yang disebut keras. Bahkan, dalam salah satu unggahan di media sosial, muncul dugaan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan program.
“Tolong ini mah banyak banget korupsinya, masa sama otak-otak keras,” tulis seorang warganet dalam unggahan yang ramai diperbincangkan, Senin (25/5/2026).
Menanggapi polemik tersebut, Kepala SPPG Bantargadung Bojonggaling 2, Dede Hermawan, menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi terkait distribusi paket MBG kategori 3B pada 25 Mei 2026.
“Kami dari pihak SPPG terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi, khususnya terkait paket MBG kategori 3B yang didistribusikan pada hari Senin, 25 Mei 2026,”ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Dede menjelaskan, komposisi menu saat itu disesuaikan dengan kebutuhan operasional distribusi untuk dua hari sekaligus, yakni Senin dan Selasa, 25–26 Mei 2026. Penyesuaian dilakukan karena pada 27–28 Mei 2026 terdapat hari libur nasional sehingga tidak ada pendistribusian makanan sesuai ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia juga mengakui keluhan masyarakat terkait kualitas makanan menjadi bahan evaluasi serius bagi pihak penyelenggara. Menu otak-otak tersebut, kata dia, merupakan menu baru yang digunakan dalam distribusi MBG di wilayahnya.
“Ke depan kami akan terus melakukan pembenahan dan pengawasan agar pelayanan Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih baik, tepat sasaran, serta tetap mengedepankan kualitas,” katanya.
Selain itu, evaluasi telah disampaikan kepada seluruh penanggung jawab di lapangan, baik di sekolah maupun posyandu, guna memastikan adanya perbaikan dalam distribusi berikutnya.
Program MBG sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka stunting serta meningkatkan asupan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Karena itu, transparansi, pengawasan, dan respons cepat terhadap keluhan publik dinilai penting agar kepercayaan masyarakat terhadap program tetap terjaga.
Masyarakat pun berharap evaluasi yang dijanjikan dapat segera direalisasikan sehingga tujuan utama program peningkatan gizi tidak terganggu oleh persoalan teknis di lapangan.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







