Dampak longsor,Kamis (6/3/2025),Rumah rusak berat milik Maman (50) warga Kp. Sungapan (RT 03/RW 10),Ds.Bojong, Kec. Cikembar/ Foto : Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Duka mendalam menyelimuti warga terdampak bencana longsor dan banjir yang melanda Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, pada Kamis malam, 6 Maret 2025. Sekitar 10 Kepala Keluarga (KK) dengan 30 jiwa harus kehilangan tempat tinggal setelah rumah mereka mengalami kerusakan berat.
Bencana tersebut terjadi di empat titik, yaitu Kampung Sungapan (RT 03/RW 10), Kampung Legok Dadap (RT 03/RW 07), Kampung Cibule (RT 02/RW 07), dan Kampung Bojong Kaler I (RT 02/RW 05), Desa Bojong.
Maman (50), seorang buruh harian lepas dan salah satu korban terdampak di Kampung Sungapan,kepada mediaaksara.id menceritakan bagaimana rumahnya luluh lantak akibat longsor. Kejadian bermula sekitar pukul 21.00 WIB, ketika hujan deras yang mengguyur sejak sore menyebabkan longsor pertama. Bersama warga, Maman sempat berusaha memperbaiki kerusakan ringan hingga pukul 22.00 WIB.
Namun, hujan semakin deras. Sekitar pukul 23.00 WIB, longsor kedua terjadi, kali ini dengan dampak yang jauh lebih besar. “Saat itu, saya baru saja ingin menikmati kopi sebelum beristirahat. Tiba-tiba terdengar suara rumah roboh di bagian belakang,” ungkapnya.
Baca: https://mediaaksara.id/bupati-sukabumi-kami-pelayan-masyarakat-kebijakan-harus-pro-rakyat/
Di dalam rumahnya, ada sembilan orang dari tiga kepala keluarga yang sedang beristirahat, termasuk anak-anak yang sudah terlelap. Maman segera membangunkan mereka dan membawa mereka ke tempat yang lebih aman. “Saat itu, satu hal yang terlintas dalam pikiran saya: hidup atau mati, tapi kami harus tetap bersama menghadapi ini,” ucapnya lirih.
Akibat longsor ini, rumah Maman tertimbun tanah hingga rata dengan tanah. Selain itu, tiga rumah lainnya juga mengalami kerusakan berat. Tak hanya kehilangan tempat tinggal, enam ekor domba, beberapa ekor kelinci, dan ayam miliknya turut terkubur dalam longsor.

“Saya tidak bisa menahan air mata. Semua habis, tidak ada yang tersisa,” ucapnya sembari mengusap wajahnya yang penuh kesedihan di hadapan tim tanggap bencana Kecamatan Cikembar.
Bencana ini bukan yang pertama bagi warga di lokasi tersebut. Selama setahun terakhir, Maman dan warga lainnya selalu waspada setiap kali hujan deras turun, karena sebelumnya sudah terjadi longsor kecil. Namun, kali ini, bencana yang lebih besar benar-benar menghancurkan harapan mereka.
Dengan tebing setinggi 8 meter yang hanya berjarak 35 meter dari rumahnya, Maman mengaku hidup dalam ketakutan. “Kami butuh solusi, bukan sekadar bantuan sementara. Saya berharap kepada pemerintah agar kami bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman,” harapnya.
Ia menegaskan, jika tidak ada relokasi, ancaman longsor bisa kembali terjadi. “Kami hanya ingin hidup tenang, tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan turun,” tuturnya.
Reporter : De
Redaktur : Rapik Utama







